Tampilkan postingan dengan label Sosok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosok. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 April 2020

Mon Premier Amour

Hai.

Bonjour.

Salam dariku, wanita yang selalu kehilangan keberanian untuk menyapamu dalam nyata.

Kuucapkan selamat pagi, selamat siang, selamat sore, atau mungkin selamat malam? Aku tidak tahu kapan kamu akan berkesempatan membaca tulisan ini. Entah kalimat macam apa yang harus kupilih untuk memulainya, setidaknya, kuharap sapaan singkat itu mampu membuatmu mengernyitkan dahi, memandangi layar smartphone-mu dengan pandangan antusias dan senyum merekah, seperti biasanya...

Ijinkan aku memperkenalkan diri, Tuan. Namaku Dhea, bukan nama yang terlalu asing jika kamu pernah sedikit saja memperhatikan segelintir orang disekitarmu menyebutkannya. Aku... bisa dibilang pengagum rahasiamu. Wanita yang gemar mencuri-curi pandang ke arahmu dengan getar-getar aneh yang seenaknya menyusup ke dalam hati, yang kata kebanyakan orang— cinta.

Semua terpatri begitu jelas dalam ingatanku... suatu hari di penghujung tahun dua ribu delapan, ketika hujan mengenalkan aku pada aroma petrichor, kita bertemu. Senyummu menyapa aku yang mendadak melongo memandangi wajah asing itu, sementara kamu sibuk berlalu, melewatiku dengan gagah tanpa tahu bahwa kamu baru saja mengguncangkan duniaku! Tepat lima tahun lalu, umurku masih sebelas, masih terlalu bau kencur untuk sekadar mengatakan bahwa aku telah terpesona; terlebih jatuh cinta. Saat itu, aku bahkan tidak tahu siapa namamu, berapa umurmu atau apapun latar belakangmu. Aku cuma terpana, menatapi kepergianmu dengan rasa penasaran yang semakin membuncah dalam dada. Aku harus segera mengenalmu! Sebulan... dua bulan... butuh waktu begitu lama untuk mengetahui bahwa usia kita hanya terpaut beberapa tahun; tak sampai sewindu. Dengan titel mahasiswa di sebuah Universitas Swasta ternama, sosok berkacamata itu tak pernah bisa luput mengundang perhatianku. Gerak-gerikmu yang khas, gaya bicaramu yang unik dan deretan gigi putih yang tampak begitu manis saat tersenyum. Akupun ikut tersenyum, mengagumi kharismamu...

Sayangnya cinta memang tak melulu soal tawa. Di tahun berikutnya, jarak membentang seolah menghadang aku untuk mengagumimu, tapi bukan cinta namanya kalau tak bisa membuatmu tegar. Aku masih tetap mengagumimu dari kejauhan yang bahkan lebih jauh lagi. Akun social media-mu adalah satu-satunya tempat aku melepas rindu, rindu yang semakin berkarat... rindu yang sukarela berkarat agar yang dirindukan semakin sukses di kejauhan.

Lima tahun berlalu sekelebat mata. Kini, aku sudah tumbuh menjadi sosok yang jauh lebih dewasa. Aku bukan lagi bocah ingusan yang percaya bahwa takdir akan menyatukan kita, aku bukan lagi bocah naif yang berharap kisahku akan berakhir dengan "bahagia selamanya", aku mulai menyadari bahwa yang kudambakan selama lima tahun belakangan ini hanyalah khayalan yang harus kuikhlaskan untuk tidak terjadi. Sudah setengah dasawarsa, Tuan. Aku berusaha menyembunyikan segalanya dari dunia, menutup rahasia ini rapat-rapat dan memendam sedalam-dalamnya. Aku pernah percaya bahwa cinta pada pandangan pertama akan berakhir secepat cinta itu berawal, tapi di sinilah aku sekarang... lima tahun kemudian, setelah aku jatuh cinta dan patah hati untuk entah kali keberapa, namun setiap aku mendengar namamu disebut, hatiku mencelus. Rasa yang (seharusnya) sudah kadaluarsa itu kembali bangkit dan merajai hatiku. Setiap kali aku melihat sosokmu... aku kembali jatuh cinta, dan kamu tak tahu, kan, betapa konyolnya jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama?

Sekarang, tepat seribu delapan ratus dua puluh lima hari dari hari bersejarah itu, tempat penuh kenangan ini kembali menyatukan kita dengan khayalan yang tak kunjung jadi kenyataan.

Aku masih tak kasat mata di hadapanmu, dan entah kapan hal itu akan berubah.






Dari pengagum rahasiamu,

yang ingin berhenti merahasiakannya.






Jakarta, 12 Desember 2013.

Sabtu, 07 Februari 2015

Aku Cuma Ingin Jatuh Cinta

Ini mungkin akan jadi salah satu momen awal tahun yang termanis, mengalahkan kenangan, membuat masa lalu malu karena kisah-kisahnya yang dangkal. Ini memang bukan yang pertama, karena yang pertama tak selalu berarti yang teristimewa, kan?

Aku memang keras kepala, rasanya sia-sia jika kisah tentangmu ini cuma kupendam dalam-dalam, kuputar ulang setiap malam tanpa menjadikannya abadi. Mungkin memang sedikit mustahil berharap kamu akan membacanya, tapi, sabodoteing! Aku terlalu bahagia untuk peduli.

Panggil saja dia Tuan Angin. Yah, kalau boleh jujur, aku memang sudah mulai bosan menjuluki seseorang, tapi, karena ini bukan buku harian, jadi penggunaan sedikit nama julukan boleh, kan? Dia, pria yang unik. Logatnya yang medok khas pulau dewata, senyumnya yang menawan, serta tatapan matanya dengan iris coklat tua yang sumpah demi rainbow jelly milk tea selalu membuatku ingin berlama-lama memandanginya.

Kami berceloteh begitu banyak, tertawa, lalu saling menatap, saling mengagumi, kemudian mengulum senyum, menanti siapakah yang akan terlebih dulu tersipu malu, lalu menikmati rona merah di pipinya. Itu adalah pertama kalinya pipiku sakit karena terlalu banyak tersenyum. Memang sakit, tapi aku tak bisa berhenti; dan akupun tak mau berhenti.

Kalian yang sudah lama mengenalku pasti tahu, aku selalu ragu dalam banyak hal termasuk cinta. Aku selalu khawatir akan sesuatu yang ada di luar kendaliku, seringkali merasa cemas karena terlalu banyak berspekulasi. Sekarang, aku tak mau lagi sibuk menerka-nerka, entah soal luka, soal membiarkan seseorang memiliki andil untuk membuatku menangis, soal berapa lama kami akan bertahan, soal bagaimana kami akan berakhir. Aku tak peduli. Kali ini, aku cuma ingin bersama dia yang membuatku bahagia, tanpa perlu takut akan kesedihan. Aku cuma ingin jatuh, meskipun mungkin akan sakit, meskipun mungkin akan tergores, tapi aku tetap ingin jatuh.

Aku cuma ingin berhenti khawatir soal apa yang akan terjadi, dan mulai menikmati apa yang sedang terjadi.


Aku cuma ingin jatuh cinta, Tuan.

Masa bodo soal patah hati dan embel-embelnya...


Rabu, 05 November 2014

Ketika Awal Berakhir




"Relationships are like glass. Sometimes it’s better to leave them broken than hurt yourself trying to put it back together."
Dear Matahari, yang sinarnya selalu menemani aku, yang katanya tak akan membiarkan bulan mengambil tahtamu...
Tak terasa, sudah satu bulan, yah? Ah! Iya, aku bohong. Bagian mananya yang tak terasa? Sampai detik ini, aku bahkan masih sering mengais sisa-sisa kebersamaan kita, mengenang sambil tetap berpegang teguh pada keputusan. Mengingat, tanpa pernah lupa pada alasan kita terpisahkan.
Apa?
Kenapa?
Bukan itu yang ingin aku bahas disini. Kalau boleh jujur, aku punya puluhan paragraf tentang semua alasan yang kamu pertanyakan. Tentang rasa kecewa, gelisah dan air mata. Tentang bagaimana aku memandangi langit-langit kamarku semalaman, tiba-tiba disergap insomnia dalam lamunan dan dilema yang sama setiap harinya. Keraguan memang tak pernah bisa seutuhnya disembunyikan, tapi dalam perjalanan sebuah hubungan, bukankah bertahan adalah keharusan?
Ada banyak alasan mengapa aku sempat bergeming, mengeluh dalam diam, dan berharap retakan itu akan sembuh dengan sendirinya, seperti sediakala. Ada lebih banyak alasan mengapa aku menolak mengakhiri, karena kehadiran rasa sesal, karena luka yang mungkin saja tergores, atau linangan air mata yang tak sanggup kulihat. Aku sudah cukup lama berlarut-larut, mengantisipasi segala macam resiko, melingkupi diriku dalam tameng sebelum akhirnya keputusan itu diketuk palu. Selesai. Bulat dan tak bisa diganggu gugat.
Dalam kisah ini, mungkin kamulah yang paling tersakiti. Sementara aku, mau tak mau jadi peran antagonis, seorang wanita jahat yang begitu tega melukaimu. Kejam, dan tak berperasaan. Bodoh, sampai cukup idiot untuk menyia-nyiakan ketulusanmu. Yah... kamu punya hak untuk menilai, dan aku punya hak untuk melakukan apa yang kuanggap benar. Kali ini, aku cuma ingin kamu tahu kalau ada beberapa situasi ketika kamu tak bisa lagi pakai hati, apalagi cinta. Terkadang, ada sesuatu yang tak bisa diperbaiki, ada banyak hal yang lebih baik ditinggalkan hancur, daripada menyakiti dirimu sendiri untuk memunguti serpihannya.
Sekarang, melihat isi lini waktumu yang masih penuh emot titik dua petik atas itu rasanya sangat tak adil bagiku. Beberapa kicauan selebtwit, penulis yang hobi galau itu juga berseliweran menohok aku dengan kata-kata yang menyedihkan; entah soal aku yang tak merasakan sakit, atau aku yang sudah latihan bilang cinta ke setiap orang...
Matahari, kita berakhir karena memang tak ada lagi yang bisa dipertahankan, ini sama sekali bukan soal pria lain yang selalu kamu khawatirkan. Tolong jangan terlalu naif dengan menganggapnya sebagai lukamu sendiri. Pisau bermata dua hanya bisa melukai jika salah satu mata pisaunya digenggam, lalu diayunkan ke arahmu. Dan kamu kira menggenggam mata pisau itu tidak melukai aku?
Ini cuma kiasan, Tuan. Aku tahu kamu benci kiasan, sebanyak aku membenci air mata sekarang. Yah, ada begitu banyak hal yang kubenci, tapi salah satunya.... untuk memilih antara bertahan, atau menyerah.




Maaf Matahari,

aku menyerah.

Selasa, 21 Oktober 2014

Biarlah Masa Lalu

Sial! Bukannya aku harusnya bangga, atau tertawa? Tapi reaksi pertamaku cuma melongo, nyaris gemetaran, masih meraba-raba kebenaran dari kalimat yang kubaca barusan. Ah, itu sudah terlalu lama, Tuan. Masa iya baru kamu baca sekarang?


Oke, kamu cukup lihai dan juga cukup bodoh jika baru menemukannya sekarang. Itu. Hampir. Dua. Tahun. Lalu. YaTuhan! Kamu bahkan butuh dua tahun untuk menyadari postingan itu? Tak heran jika aku terkejut, kan? Mau apa kamu lihat-lihat blog-ku sekarang?



Ya, mungkin aku pernah berandai-andai kamu membacanya, sekitar dua tahun lalu, saat pertama kalinya kamu mengenalkanku pada luka, pada hujan air mata. Aku menulisnya sebagai pelampiasan, sebagai ganti jeritan dan makianku yang terbungkam, sebagai balas dendam manis yang memberiku ketenangan. Dan kamu tak tahu, kan, berapa banyak pujian yang kudapat dari tulisan tentang luka yang kamu torehkan? Tulisan itu sebuah senyuman sinis tanda kemenangan. Aku menang melawan tipu dayamu yang curang, aku bangkit dari keterpurukan dan bahkan di elu-elukan! Kamu, lihat? Aku bahkan menjadi lebih baik setelah kamu tinggalkan :p



Pada titik ini, aku tak bisa jadi lebih pamer lagi. Kamu– si masa lalu yang entah mengapa bisa nyasar ke sini, mungkin kamu masih suka mencari-cari kabarku dalam diam. Jadi stalker sosial mediaku dan kembali terperosok kenangan. Haha, ayolah Tuan, sebegitu susahnyakah mengirimiku pesan 'Hai, apa kabar?'.



Pada detik ini, kamu sendiri tahu, tak ada lagi masa lalu yang bisa kugali. Aku sudah kehabisan bahan kenangan, terlalu malas mengobrak-abrik ingatan untuk secuil masa lalu yang hampir tak berbekas. Masa lalu yang mulai kamu bawa lagi ke permukaan...



Yah, laporan pageviews di dashboard blog-ku tak mungkin berbohong. Pengunjung yang biasanya cuma satu-dua selama seminggu, eh, tiba-tiba jadi enam puluh satu dalam sehari? Astaga, Tuan! Itu benar-benar kamu semua? Hufttt. Segitu antusiasnya, yah, kamu membaca cerita tentang dirimu? Dasar narsistik! Padahal aku yakin matamu pegal membaca deretan alinea itu. Aku juga tahu kalau ada beberapa kalimat yang terlalu harfiah, bahkan ada metafora yang barusan membuatku tertawa saat membacanya hehe, maaf, Tuan. Jeritan orang patah hati memang suka tak karuan bunyinya. Wong, hatinya saja berantakan gitu, kok.



Haduhhh, jangan terlalu senang, Tuan. Masa dikatai dan dimaki-maki dalam tulisanku, eh, kamu malah jadi senang? Abis kejedot dimana, Tuan? Sudah pernah ditoyor pakai palu godem, belum?-_- haha begini sajalah, Tuan. Anggap semua tulisanku ini sebagai ucapan terimakasih atas kado 'luka' darimu. Toh, lukaku juga sudah lama sembuh, masih ada luka baru, sih, tapi bukan urusanmu :p



Oh iya, ngomong-ngomong, kamu suka, kan, nama julukanmu? Kalau sempat, kabari aku, ya, soal posting favoritmu. Siapa tahu nama kamu bisa aku cantumkan di sana, kan? :p



Tuan, aku mau titip saran. Lebih baik akhir-akhir ini kamu banyak-banyak berdoa saja, yah. Soalnya Karma lagi beli jet pribadi, nih, biar cepat sampai ke kamu :* hahaha









Dari masa lalu,

Perlukah kucantumkan namamu?

Senin, 27 Januari 2014

Kamu Melulu, Masa Lalu

Seharusnya aku tak perlu mengunjungi kantin pada istirahat kedua tadi. Yah, setelah berulang kali mengumpat memaki-maki diri sendiri, aku menyerah. Ternyata memang tak ada bedanya. Kita (terpaksa) kembali dipertemukan, dalam suasana terabsurd yang tak pernah aku perkirakan.


Jika kejadian itu kembali kureka dalam kepala, semuanya sederhana. Aku menuruni tangga sekolahku tanpa prasangka apa-apa, tanpa pernah tahu bahwa aku akan menemukan sosokmu disana, bertopi hitam, baju khas taruna penerbangan yang kau idamkan dan... ah, tunggu! Aku mengenalimu! Sekilas. Meskipun hanya dengan memandangi punggungmu, aku tahu, itu memang kamu. Pria yang sudah lama ini tak mampu terjangkau pandangan mataku.



Ternyata, tak ada pertemuan nyata bukan berarti aku cepat lupa. Sel-sel otakku masih benar-benar mengenali siluet tubuhmu, meski tanpa rambut cepak dan sudah terpapas rapi, meski tanpa seragam putih abu-abu yang jadi identitas diri, aku masih mengenalimu; dalam hitungan detik. Kurang dari sepuluh langkah ke depan, aku berhasil melewati posisimu dengan gerak-gerik 'senormal' mungkin. Iya, segalanya berhasil... sampai kemudian kabar-kabar itu mulai sampai ke telingaku...



"Eh, alumni tahun lalu kan lagi sosialisasi kampus mereka, tuh, ke tiap-tiap kelas. Ada Sinar Alfa juga, loh! Nggak kangen?" Seseorang menegurku dengan nada menggoda.



Aku mengulum senyum masam. "Udah tau," jawabku yang membuat orang itu kembali memberondongku dengan seribu satu macam pertanyaan. Seolah-olah aku dan Sinar Alfa masih terikat hubungan.



"Di luar ada siapa, tuh?"



"Ehem, cieee... cieee ada yang inget masa lalu, nih!"



"Duh, nggak jadi moveon, deh, kalo orangnya nongol lagi. Hahaha..."



Seruan-seruan meledek terdengar dari seisi kelas saat sosok itu melewati kelasku dengan gelagatnya yang khas. Aku mencoba tersenyum, berusaha memungkiri keadaan hatiku yang mendadak pilu. Ahhh, sepedih inikah masa lalu?



***


Bel pulang sekolah sukses mengakhiri pergulatan batinku yang sedaritadi sibuk menepis-nepis kenangan. Aku buru-buru membereskan buku, menggendong tas dan tergesa-gesa meninggalkan kelas. Berusaha menjauh dari sosoknya yang kukira ada di kelas sebelah. Ya... aku kira. Tapi bukannya perkiraan seringkali meleset, ya?



Ditengah hiruk pikuk kendaraan itu aku berulangkali menarik napas lelah. Bus yang kunanti sejak berpuluh-puluh menit lalu masih tak kunjung menampakkan wujudnya. 
Awan berubah menghitam, rintik-rintik hujan mulai menetes membasahiku saat tanpa disengaja, sudut mataku menangkap sosok yang tak asing disana. Diseberang jalan, berlarian menuju halte bus dengan tangan menudungi kepala. Aku terperanjat. Ah, sial! Itu benar-benar kamu!



Aku tak bisa berpura-pura tak peduli. Jantungku bahkan mengerti bahwa kebetulan ini tak bisa ditolerir lagi. Semua terlalu nyata, dan aku benci harus mengakui bahwa aku masih saja memandanginya! Miris memang. Betapa aku hanya bisa bernostalgia dari seberang jalan, berpura-pura tidak menatap sosokmu di kejauhan sambil asyik sendiri mengutak-atik kenangan.



Oke. Aku hampir lupa bahwa saat ini hujan!!! Kurapatkan jaketku, kuambil apapun yang bisa menutupi kepala tanpa berniat sedikitpun untuk beranjak dari tempat ini. Meskipun jarak halte tak sampai lima meter dari tempatku berdiri, aku lebih suka diguyur hujan. Yah... sekaligus hujan kenangan.



Kita berdiri hampir berhadapan, terpisah beberapa meter oleh dua ruas jalan dan sebuah selokan raksasa ditengahnya. Aku masih menerka-nerka kendaraan apa yang akan kamu tumpangi saat kemudian kamu tiba-tiba menghilang, bersamaan dengan melajunya sebuah angkot berwarna biru yang kucurigai berisi kamu didalamnya.



Lalu... selesai. 'Kebetulan' singkat yang sangat menarik. Aku bahkan tak sabar menunggu sampai dirumah untuk bercerita tentang ini, karena pada detik selanjutnya kudapati diriku tengah merogoh-rogoh notes dari dalam tas, mengambil alat tulis, dan membiarkan semua kisah ini mengalir... kisah yang (seharusnya) sudah lama berakhir.



Aku sampai dirumah dengan notes penuh tulisan. Mual yang kudapat seusai perjalanan tadi tidak menyurutkan niatku untuk segera mempostingnya di blog. Tapi ketika aku mengeluarkan tab-ku dari dalam tas, aku melongo. 1 unread message.


From : Sinar Alfa.



Neduh gih di halte, jangan ujan2an ;)
Duluan ya



Deg! Mataku membulat, aku sontak menganga. 
Sinar Alfa? Kamu? YaTuhan! Mungkinkah kisah ini belum benar-benar berakhir?


Ah, kamu melulu, masa lalu...








NB : Tulisan ini diikutsertakan dalam #QuizDy yang diadakan oleh @DyLunaly :)

Senin, 23 Desember 2013

Aku. Tanpamu.

Entahlah... apakah ini cuma aku, atau memang pagi ini terasa begitu sunyi?

Saat aku mulai menulis tulisan ini, aku baru saja selesai mengotak-atik rubik 5x5 yang membuat otakku semakin melilit. Yaaa yaaaa yaaa, kedengarannya membosankan, bukan? Memang. Sedari tadi aku terus-terusan berusaha membunuh waktu. Aku hanya mengambil benda apapun untuk berpura-pura sibuk, mencoba mengulur waktu dan membuat lupa, tapi nyatanya... tak bisa juga.

Sudut mataku kembali mencuri pandang kearah gadget-ku yang tergeletak mati, mengenaskan. Aku lagi-lagi menghampirinya, (untuk entah kesekian kalinya) berusaha memencet berbagai tombol sambil sesekali berharap layarnya akan menampilkan lebih dari sekadar bulatan-bulatan pattern yang tak kunjung merespon saat di sentuh. Ah! Aku mendecak kesal.

Kulempar tab-ku asal-asalan diatas kasur sambil kembali merenungi nasibku yang entah mengapa selalu terasa menyebalkan. Uh! Harusnya hari ini kuhabiskan dengan tawa... harusnya saat ini kami masih saling bercengkrama... harusnya sekarang, aku dan dia sedang asyik-asyiknya bertukar cerita... Harusnya. Tapi sayangnya... tidak.

Terkadang, jarak suka membuatku gemas sendiri. Entah karena ulah si Tuan Sinyal, lambannya aplikasi BBM, atau malah sulitnya lalu lalang gelombang elektromagnetik itu di udara, kami (terpaksa) terpisah. Lagi. Meskipun faktanya kami memang sudah benar-benar terpisah, oleh jarak.

Menyedihkan, yah? Iya, tapi kali ini salahku. Entah mengapa, belakangan ini gadget-ku terlalu doyan ngambek dan mati sendiri, seperti mati suri. Aku tahu ini sangat tak masuk akal, tapi tak mengabarinya seharian, aku jelas merasa seperti seorang buronan. Seperti pelarian.

Mataku menerawang sambil memandang keluar jendela, membiarkan pikiranku berimajinasi dengan bayang-bayangmu yang masih saja lekat dikepala. Huh. Entah berapa lama lagi aku bisa berpura-pura lupa... satu jam... dua jam... tiga jam... hingga lima jam.... Aku semakin getir. Air mulai menggemang dengan sendirinya dipelupuk mataku, jatuh membasahi pipiku dan berakhir diujung dagu. Matahari, ah aku rasa kamu bahkan belum tahu arti namamu, yah? Iya, kamu matahari. Tapi andai menemuimu itu semudah aku menemui matahari yang ada dikerajaan langit, aku rasa, aku tak perlu menangis di siang bolong begini....

Ah, bodoh! Barusan aku bilang siang, yah? Sudah hampir pukul dua sekarang. Aku bahkan lupa makan. Yah... kalau kamu ada disini sekarang, pasti pipiku sudah jadi bulan-bulanan. Entah bakal semerah apa oleh cubitan gemas yang membuatku semakin merona malu.

Sayang, sudah delapan jam kita tak saling bertukar kabar. Apakah kamu masih tetap mencariku? Atau malah diam-diam mencari kabar wanita lain diluar sana? Aaaaaahhh matahari, tak bisakah kita saling telepati? Agar aku tak perlu kepayahan memendam kangen sendiri... atau mungkin kamu bahkan sudah tak lagi peduli, tak mau tahu aku masih hidup atau sudah mati?

Dari kekasihmu yang terlalu suka melebih-lebihkan,
Maaf...

Sabtu, 14 September 2013

Benarkah Cinta Tak Harus Memiliki?



Anggap saja ini curhatan. Letupan dari sebagian jeritan hatiku yang masih terbungkam. Sekeping kisah yang masih saja terselip di masa lalu, yang tak ingin kubawa secuilpun ke masa depan. Ini tentang cinta. Yah, memangnya apalagi yang bisa membuatmu menunggu walau begitu terluka? Ini tentang kesetiaan semu. Tentang cinta yang hanya bisa kusampaikan lewat binar-binar ketulusan dimataku. Tentang sosok yang hanya mampu kuraih lewat lengan doa, selain dalam buai-buai mimpi yang tak kunjung menjadi nyata.


Khayalku begitu terlatih merangkai namamu. Membiaskan pahatan demi pahatan wajah berkharisma yang dalam sekedip mata sudah begitu sukses merajai anganku. Sosok dengan senyuman manis, tubuh tegap dan nada bicara yang selalu terngiang-ngiang didalam hati. Aku menjulukinya sang pencuri. Sang perampas hati yang melucuti logika korbannya dengan kalimat manis yang menebarkan harap; yang berbuah tangis. 


Salahkah aku? Bukan aku yang meminta desir aneh saat kita saling bertatap. Semuanya terjadi tanpa kureka-reka, semuanya berakhir tanpa kusangka-sangka. Aku cuma suka mengagumimu. Menemani hari-harimu… dulu. Menatap diam-diam sosokmu dari suatu kejauhan bernama jarak. Sekarang. Dari tempatku berdiri, dari tempatmu bercengkrama manis dengan kekasih barumu. 


Aku tak lagi begitu bisa menggapaimu. Seperti dulu kita saling bercerita, seperti beberapa bulan lalu kita saling mencinta. Ah, mungkin itu hanya sebagian dari imajinasi khayalku. Aku yang terlalu menjunjung tinggi ketulusan cinta. Tanpa pernah meminta, apalagi terucap. 


Semua hanya tertuang dalam syair. Dalam beribu untaian puisi yang selalu saja kutujukan padamu. Masih untukmu. Entah berapa banyak paragraf dan suku kata yang melukiskan rasa ini. Rasa yang menyembul perlahan dari keterbiasaan. Dari begitu banyak detik yang kita bagi bersama, dalam senyuman yang dulu kuanggap bukan apa-apa. Boro-boro cinta. 


Kita memang tak pernah benar-benar menjadi kita. Aku dan kamu hanya saling bertemu, bertatap dan berbagi cerita; bukan rasa cinta. Aku sama sekali tak bisa menyampaikannya, terlebih ketika dawai gitar itu mulai kamu petik, melantunkan melodi Lagu Rindu yang menyeruak sampai ke telingaku. Bahkan menyentuh tepat dihatinya.


"Lagu rindu ini kuciptakan
Hanya untuk bidadari hatiku tercinta
Walau hanya nada sederhana
Ijinkan kuungkap segenap rasa dan kerinduan..." 



Kamu mengakhiri bait itu dengan senyuman dan tatapan lembut yang jatuh dikedua bola mataku. Aku spontan terkejut, mulai salah tingkah saat akhirnya kamu malah berkata,

"Ikut nyanyi dong! Masa aku sendirian...."

Ah! Aku berdecak, tapi mau tidak mau, aku mengangguk. 

Dan haripun berlanjut seperti biasa. Kamu menjemputku dirumah, aku menemanimu berlatih gitar, makan di warung padang kesukaanmu dan menunggumu di kelas musik. Semua terjadi begitu saja. Dengan keterbiasaan, tanpa paksaan dan ternyata… tanpa tujuan. 


Suatu hari di minggu ketiga bulan Agustus. Aku menunggumu selama berjam-jam. Cardigan tebal yang tadinya kukenakan bahkan sudah kulempar sembarangan di atas sofa, dahiku berkerut. Tiga jam sudah aku menunggu bel pintu berbunyi, tapi bahkan suara motormupun belum terdengar. Kurogoh handphoneku dan kembali kuhubungi nomor yang sudah kuhapal di luar kepala itu. Mail box. Handphonemu masih dalam keadaan mati, seperti beberapa saat lalu. 



Dan tiba-tiba semuanya sirna. Kamu menghilang dan rutinitasku tak lagi sama. Tak ada lagi bunyi klakson motormu yang tak sabar menungguiku di depan gerbang. Tak ada lagi duet-duet indah yang selalu saja kutunggu-tunggu. Tak ada lagi kamu. Apalagi kita. 



Sekarang, belum genap sebulan setelah semuanya terjadi. Kamu bahkan seakan tak pernah mengenalku, kamu berlalu disisiku dengan wanita baru dalam genggamanmu, tersenyum manis kepadanya layaknya tak pernah ada aku. Pada akhirnya, kisah kita hanyalah dongeng. Cerita yang bahkan masih aku ragukan realitanya. Kita berakhir. Satu kosong. Hatiku terampas sementara hatimu masih padanya. Pada wanita barumu. Yah, sudahlah… bukannya cinta memang tak harus memiliki? 



Ah, jangan percaya bualanku. Itu hanya sebaris kalimat yang sering kupakai untuk menghibur diri. Karena sebenarnya, cinta itu tumbuh dari rasa memiliki, dari kebersamaan yang menciptakan kenyamanan dan kebahagiaan. Sekarang, bagaimana aku bisa mencintaimu? Jika melihat batang hidungmu saja aku terluka, jika bahkan sekadar mengenang kita saja aku tak bisa. Yah, andai kamu tahu, aku mulai lelah mencintai dia yang dimiliki oleh orang lain. Apalagi... tetap berpura-pura tidak tersakiti karenanya.





with love,

Dedicated for, Anonim.

Selamat berusaha melupakan yah!

Kamu pantas mendapatkan yang lebih baik daripada dia ;)

Kamis, 08 Agustus 2013

Maaf dan Terimakasih

Sebelumnya, kuucapkan Happy Ied Mubarak 1434H untuk kalian semua :) untuk semua sosok yang pernah mengisi keseharianku dalam satu tahun belakangan ini. Entah dengan sengaja, ataupun terpaksa. Untuk Prince Jutek-ku, untuk Sinar Alfa-ku, untuk Sang Makhluk Asteroid, untuk sahabat-sahabat terbaikku Syaa dan untuk semua orang yang dengan sekiranya sudi menganggapku teman.

Aku terkesan. Betapa jangka waktu setahun itu terasa begitu singkat untuk sekadar kucicipi kebahagiaannya, kunikmati lukanya, dan kuresapi setiap jengkal rasa sakitnya. Aku terkesima. Betapa jangka waktu dua belas bulan itu kuhabiskan dengan tertawa dan menangis, dengan ribuan senyuman yang tak terpungkiri didalangi oleh kesederhanaan kalian. Oleh sebaris lelucon aneh yang dulunya berhasil mengubah mood-ku seharian. Entah dengan mantra sihir semanjur apa.

Untuk Prince Jutek-ku...

Hai! Kamu sudah begitu berubah sekarang. Kamu bukan lagi pria pendiam yang (dulu) berhasil membuat hari-hariku berpelangi dengan kemanisannya. Kamu semakin keren. Kamu semakin bertransformasi menjadi menjadi pria lain yang sudah tak lagi kukenali gelagatnya. Pria yang asing.

Aku minta maaf, Prince. Aku selalu berpura-pura tak terjadi apa-apa diantara kita. Aku ketakutan. Permintaan maafmu yang akhirnya kembali membuka semua kisah lama, membuatku percaya bahwa perasaan itu bukan cuma aku yang rasa. Dulu, pernah ada kita. Pernah ada dua insan yang berbagi cerita bersama, dengan perasaan 'lain' yang terus saja dipendam sedalam-dalamnya.

Untuk Sinar Alfa-ku...

Selamat berbahagia! Kamu telah menemukan wanita yang terpilih sebagai masa depanmu. Maaf ya, aku pernah membuatmu sekejap berpaling darinya. Tapi sungguh, jika aku menyadari semuanya sedari awal, aku tak akan tega bahkan hanya untuk sekadar duduk bercengkrama bersamamu. Aku tak akan kuat melihat hati perempuan yang kamu sayangi itu menjadi tercabik-cabik setengah berceceran; seperti yang pernah kurasakan dulu :)

Untuk Sang Makhluk Asteroid...

Aku tidak akan menanyakan kabarmu :p hehe untuk apa? Kamu bahkan masih selalu kulihat, meskipun semua sudah tak lagi sama sekarang. Aku kehilangan lelucon konyolmu, gaya bahasa tua dan kata-kata sok bijakmu, serta janji terakhirmu yang bahkan belum sempat terealisasikan... Yah, aku memang sempat berpikir bahwa semuanya akan berakhir berbeda.  Aku pikir, kita bukan terjebak waktu dan suasana, tapi ternyata... semua memang semu, yah? Segalanya hilang dan aku harus terus berpura-pura tak terjadi apa-apa. Ah, sudahlah :) aku cuma ingin minta maaf atas terganggunya hari-harimu dulu. Maaf atas kehadiranku yang selalu mengacaukan rotasi duniamu yang sudah sempurna. Aku memang sempat kesulitan bersandiwara, tapi setidaknya, ini membantuku menghadapi realita :)

Untuk Sya...

Holaa!!!!!! Langsung rame deh-_- hehehe. Aku tahu, mungkin tulisan ini tak akan terbaca oleh kamu-kamu yang suka unyu-unyu dan aneh sendiri itu. Mungkin bahkan, tulisan ini tidak akan dibaca oleh siapapun :| duh sedihnya.... hehe :| Sya, entah sudah berapa ratus hari kita saling mengenal, bercanda gurau dan asyik meributkan hal-hal sepele yang tak jelas juntrungannya itu... Selama lebih dari dua tahun ini, kita pernah lebih dari sekadar sahabat. Kita pernah jadi saudara, musuh yang saling meledek, bahkan kritikus yang dengan seenaknya berkomentar satu sama lain.

Aku tak begitu peduli kalian menganggapku apa. Teman yang bawel dan menyebalkan, Si Pesek yang sok bijak dan kadang tiba-tiba abnormal, atau entah apapun hal-hal buruk lainnya. Sebelumnya, maaf kalau aku tak bisa selamanya menjadi sahabat yang baik untuk kalian. Aku terlalu kepala batu. Ada kalanya aku mendadak berubah marah, atau malah membuat kalian benci melihat tingkahku yang seenaknya sendiri. Tolong maafkan, Sya. Aku masih kurang pandai menempatkan diri.

Untuk kalian semua yang pernah merasa mengenalku, maaf. Aku pasti berhutang begitu banyak maaf atas semua kecerobohanku selama ini. Entah karena perkataan yang sering menyayat hati... atau malah karena tingkahku yang membuat kalian benci setengah mati. Maaf. Aku tak pernah berkeinginan untuk dibenci oleh siapapun.

Kalian, selain kata maaf yang (aku tahu) tak akan bisa menebus begitu banyak kesalahanku pada kalian, aku juga ingin menyampaikan rasa terimakasihku pada seisi dunia.

Teruntuk Prince Jutek-ku yang sempat kujuluki ayam :p terimakasih telah mengajariku cara insom yang baik, terimakasih telah mengenalkan aku pada Los Blancos yang akhirnya aku cintai seutuhnya. Yah, setidaknya 'kita' memang pernah ada... ;)

Teruntuk Sinar Alfa-ku yang tak bisa hidup tanpa musik... terimakasih telah membuatku tergila-gila pada rubik :) Aku titip salam untuk wanitamu yang calon guru itu, semoga kalian selalu bahagia dan saling mencinta :)


Teruntuk Makhluk Asteroid yang (katanya) tinggal diantara planet Mars dan Jupiter... terimakasih atas petuah bijakmu soal dunia menulis yang kugilai sekarang :) Tetaplah menjadi pria manis yang tak pernah letih menatapi layar laptop hanya untuk mendalami dunia yang kamu cintai; dunia teknologi :)

Teruntuk Sya yang adalah segala-galanya... Terimakasih sudah berusaha menerima aku dalam kehidupan kalian :) Aku tahu kalian pasti begitu susah payah untuk berusaha memahami  jalan pikiran manusia aneh seperti aku ini, tapi diluar semua kekurangan dan kelebihan kita, aku tahu, kita tetap sahabat yang saling mempedulikan ;)

Untuk kalian semua, manusia yang ada diluar sana. Terimakasih karena telah menyemarakkan seisi duniaku selama setahun belakangan ini. Memang, tak ada yang sempurna di dunia ini. Maka oleh karenanya, maaf dan terimakasih dibutuhkan :)

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1934H,
selamat memaafkan! :)


Rabu, 07 Agustus 2013

Dua Bulan Setelah Penghianatanmu

Selamat bertemu lagi, Sinar Alfa :) Waktu berlalu begitu cepat yah? Sudah dua bulan aku menjalani semuanya tanpa sedikitpun rasa kepedulianmu. Ya.... entahlah. Entah kamu masih mengingat wanita bodoh sepertiku atau tidak. Setidaknya, aku masih sanggup untuk berpura-pura tak peduli.
Apa kabar? Kalau aku, aku masih baik-baik saja. Semuanya tak ada yang berubah, hari-hariku masih sama. Sekolah, mengerjakan tugas, ulangan, tertawa dan menangis. Semua masih sama. Namamu bahkan masih sangat sering kudengar disetiap sendi-sendi kehidupanku. Mereka masih saja seringkali menyangkutpautkan aku dan kamu. Mereka masih gemar mencandakan namamu di hadapanku, mengingatkan aku padamu.
Yah bukan sepenuhnya salah mereka, bukannya setahu mereka kita masih bersama? Iya, kebahagiaan kita memang sempat terasa nyata. Dulu. Aku sempat sepenuhnya mempercayai kamu. Mempercayai kita. Dulu. Tapi jika semua memang benar-benar pernah nyata, mengapa ini berakhir layaknya memberhentikan sebuah permainan, Tuan? Berhenti dan selesai. Semudah inikah?
Padahal seingatku kemarin masih sempurna. Aku masih tersenyum bersama kamu disisiku, aku masih tertawa mendengar celotehan manismu tentang hidup. Tentang aku yang terlalu ketakutan saat kamu tunjukkan keadaan calon taruna STPI, tentang kamu yang selalu mencubit gemas hidungku sambil menyerukan 'pesek pesek pesek' ke seluruh dunia. Tentang kita yang tak pernah habis bercerita satu sama lain. Tentang lagu yang kita bagi bersama. Tentang berjam-jam yang pernah kita habiskan dengan canggung dan manis. Semudah inikah terlupakan? Ah aku salut! Aku bahkan tak kuat untuk menahan tangis saat menulis ini. Mengenangmu, menjadi candu.
Ingatkah kamu tentang berjam-jam yang kita habiskan dibawah langit malam itu? Apakah kamu ingat dengan percakapan sederhana kita? Pengalaman hidup yang membuatmu trauma, lembar jawaban ujian sekolahmu yang nyaris robek, listening section-mu yang berantakan, bandmu yang luar biasa menakjubkan, rekaman permainan gitarmu, kecintaanmu pada rubik dan meme comic. Semuanya, aku masih ingat semuanya.
Apa kamu masih ingat dengan beberapa janjimu yang belum sempat terwujud? Apakah kamu masih ingat dengan kata-kata yang pernah aku harapkan akan meluncur dari bibirmu? Tidak? Ah sayang sekali, aku masih ingat.
Kamu tahu? Aku sengaja tidak menonton kelanjutan film 'kita'. Aku hanya mau menontonnya denganmu, disampingmu. Aku sengaja menulis banyak kisah hidupku, untuk terbaca kamu, untuk terbaca kita. Tapi apa? Semua cuma sekadar janji. Cuma sebaris kata-kata yang sudah tak mungkin lagi akan terwujudkan.
Maaf jika tulisanku tak berkenan untuk terbaca kamu, Sinar Alfa. Diksiku mulai berantakan sejak dua bulan lalu. Sejak hatiku mulai retak, hancur berceceran dan sulit kubenahi. Maaf, ini cuma beberapa paragraf usang yang kutulis dengan kenangan yang sudah sangat kadaluarsa. Lagi-lagi, aku masih mengingat kamu.
Terimakasih, Tuan :) Terimakasih atas senyuman yang pernah kamu bagi bersamaku. Terimakasih atas semua kehangatan yang pernah aku rasakan dalam dekapanmu. Aku (tentu saja) akan merindukanmu kelak. Nanti, suatu ketika. Nanti, saat kita sudah sama-sama menggenggam dunia.
Selamat tinggal, Tuan :) semoga saja (setidaknya) kamu pernah mengingatku sesekali.

Tertanda,
dari seseorang yang pernah kamu panggil sayang.
dari seseorang yang pernah menganggapmu dunianya.
Aku :)




Minggu, 21 Juli 2013

Kita dan Kenangan :')

Pertama kali aku melihatnya, tak sekalipun aku mengira bahwa lelaki itu akan menjadi bagian penting dari hidupku.
Dia hanyalah seorang lelaki biasa yang datang dengan senyuman, meski tanpa kusadari betapa senyumannya itu akan meluluhlantakkan duniaku.
Dia hanyalah seorang lelaki biasa yang menyapaku dengan candaannya.
Tak ada yang istimewa darinya. Hanya saja jika tanpa dia... duniaku tak ada artinya!

***

Halo kamu :) Maafkan diksi puisiku yang kurang sempurna, akhirnya kita bertemu lagi. Bagaimanakah kabarmu? Apakah kamu ingat tanggal berapa sekarang, Prince Jutekku? Ah, kamu pasti lupa. Setahun lalu, 21 juli 2012. Awal yang sederhana, hanya sebatas teman yang kukagumi sifatnya. Misterius. Justru itulah kelebihan sosokmu. Dengan senyuman manis dan berbagai kekonyolanmu, semua berubah. Menyusun setiap fragmen kenangan indah yang terkadang kunikmati sendiri. Entah denganmu.

Bolehkah kuceritakan awal kisah ini? Gurauan sederhana yang tak terpungkiri membuatku tersenyum. Rangkaian kata-kata manis yang kita lontarkan bergantian tak jarang membuatku tersipu. Tersenyum bahagia. Ah, entahlah... Dulu kita sangat nyaman dengan ketidakjelasan ini. Dengan tanpa janji dan ikatan, kita tertawa bersama. Saling bertukar lelucon dan cerita aneh yang membuatku semakin mengenalmu, pangeranku.

Sosok cuek itu mulai bertransformasi menjadi pria manis yang penuh perhatian. Jelas saja aku tersanjung, diperlakukan bagai putri dan dipanggil bidadari. Betapa bahagianya saat-saat itu, ya, meski tanpa status.

Dulu, saat masih ada kamu, aku seringkali menatap layar handphoneku dengan senyum kecil. Membaca berbagai panggilan menggemaskan yang kamu tujukan untukku. Dulu. Disaat semua terasa manis.

Detik bergulir dan waktu berganti, sudah hampir setengah tahun berlalu semenjak kisah ini dimulai. Percakapan manis kita mulai tergerus rasa bosan, dan pangeranku yang dulu mengagumkan entah menguap hilang kemana.

Terang saja, aku takut kehilangan. Setiap kali dia ucapkan kata tenang, hatiku bergejolak. Aku tak ingin figur mempesona ini pergi, apalagi ketika hatiku memintanya bertahan. Tapi nyatanya, setiap detik yang berlalu membuat kita terpisah semakin jauh. Aku mulai tak lagi mengenalmu; kamu yang sekarang, kamu yang mulai berubah jadi kenangan.

21 juli 2012. Mungkin hanya sekadar angka tak bermakna bagimu. Ya biarlah, aku tak mungkin marah. Tak ada kata sesal, bukan? Untuk apa menyesali sesuatu yang membuatku bahagia? Menyesali kamu?

Sosok cuek yang memperhatikan setiap detail. Penggemar futsal dan pecinta Los Blancos sejati. Penyuka warna putih yang tak bisa hidup tanpa bola. Jutek. Dingin. Dan manis.
Maaf, jika sedikit saja kau luangkan waktu untuk membaca tulisan ini. Aku yakin kamu akan bosan, merasa gerah dengan aku yang gemar memutar kenangan. Tapi sudahlah... Kenangan manis kadang tak selamanya diingat, bukan?
Terimakasih kamu ;) pangeran jutek yang menyebalkan, penderita insomnia yang tak bisa berhenti mengataiku bawel.

Selamat tanggal 21 juli, Kamu. Masih ingin membuat cerita tentang kita? :p

Minggu, 30 Juni 2013

Delapan Bulan; Sebelas Hari

Bum! Semuanya hancur. Air mataku bahkan belum benar-benar mengering dari sisa tangisku semalam. Mataku sembab, pipiku basah dan hidungku berair. Aku menulis ini saat aku tak tahu lagi harus kukemanakan rasa sakitku. Aku menulisnya ketika hatiku mulai berkeping-keping dan terlalu sulit untuk kubenahi. Butiran bening itu sukses mengalir dipipiku, menetes keatas kertas tempat aku menuangkan semua luka dan pedih yang melandaku akhir-akhir ini. Semenjak seminggu lalu, semuanya berakhir. Dalam arti yang sebenarnya.

Kamu. Iya, kamu begitu mudah mengakhirinya.Mengucapkan kata pisah ketika aku masih cinta-cintanya. Memilih pergi saat bahkan aku terang-terangan meminta kamu kembali. Dimana hatimu, Sayang? Kamu kemanakan perasaan yang katanya cinta itu? Dulu, kamulah segalanya. Dulu, akulah segalamu.... Tapi apa? Kenapa kamu tetap memilih pergi?

5 Oktober 2012. Traktiran seorang sahabat mengubah hidupku seutuhnya. Masih kau ingatkah? Saat itu, kamu cuma sosok asing yang menerobos masuk dalam hidupku dengan sekenanya. Terjebak diwaktu dan tempat yang sama, berbarengan memasuki rumah hantu itu dan keluar dengan perasaan yang mulai tumbuh tanpa kuharapkan. Aku mulai menyukaimu.

Seminggu kemudian, tak butuh waktu yang terlalu lama, dua orang asing itu mulai menjalin hubungan manis dalam sebuah status. 12 Oktober 2012. Status yang membuatku berhak memanggilmu sayang, status yang menjadikanku berhak menjulukimu milikku.


Hatiku berdesir. Senyum acapkali singgah ketika melihat pesan-pesan singkatmu memenuhi inbox handphone-ku setiap menit, setiap hari, setiap minggu, selama berbulan-bulan. Percakapan sederhana itu lantas menjadi sarapan dan makan siangku, menemani aku menghirup napas dan memupuskan semua kesedihanku. Aku bahagia meskipun kamu memang tak benar-benar hadir disisiku. Aku bahagia karena entah mengapa... semuanya terlihat berwarna.

Tapi lagi-lagi, bum! Mengapa semua kebahagiaan selalu begitu cepat berakhir? Aku bahkan masih merindukan kamu, aku masih merindukan saat-saat ketika senyummu adalah satu-satunya hal yang perlu kulihat untuk berhenti menangis. Mengapa kamu begitu ingin mengakhirinya? Padahal aku masih ingin merasakan kebersamaan ini sedikit lebih lama lagi. Padahal aku masih kepayahan menahan gejolak rindu yang terus-menerus membuncah; minta diungkapkan.

Ah, aku semakin bosan menangisimu, Sayang. Seminggu memang bukan waktu yang cukup untuk menghilangkan rasa, bukan juga rentang yang panjang untuk melenyapkan luka. Aku begitu tersakiti. Aku terlalu berharap banyak dari kita. Aku terlalu suka berimajinasi dan membayangkan kisah kita punya akhir yang begitu membahagiakan, atau paling tidak tak semengecewakan ini.


Aku menangis untuk kesekian kalinya, untuk entah tetes air mata keberapa yang aku habiskan karena kamu; karena kita yang pernah ada. Sungguh, jika kamu masih sedikit saja sudi mendengar celotehan anehku, akan kuceritakan tentang betapa sulitnya mengikhlaskan. Dari ada, menjadi tidak ada. Dari milikmu, menjadi bukan milikmu. Bahkan milik orang lain.

Yah... mungkin kita memang sudah lepas dari status, tapi harus kuapakan kenangan?



with love,

Dedicated for Fasya :)





Rabu, 26 Juni 2013

Sekotak Kardus dalam Kenangan

Tulisan ini untuk ikut kompetisi @_PlotPoint: buku Catatan si Anak Magang Film "Cinta Dalam Kardus" yang tayang di bioskop mulai 13 Juni 2013.












Namanya memang masih selalu kumisteriuskan, julukannya Sinar Alfaku mantan gebetanku yang sangat mahir memetik gitar. Penggemar bulutangkis dan penyuka rubik yang tak bisa hidup tanpa musik. Iya, mantan memang sosok yang paling jago bikin kenangan. Tapi dari semua pemberiannya, memang 'tinta cina' lah yang termanis. Kenapa? Tentu saja karena kenangannya.

25 februari 2013. Malam beranjak gelap. Jam dihandphoneku mulai menunjukkan pukul delapan lewat empat menit saat aku masih kebingungan mencari peralatan untuk tugas seni rupaku besok.

From : Sinar Alfa


    Udah ketemu belom de? Biasanya di fotokopian ada kok.


Aku melengos. Fotokopian mana lagi? Aku sudah mencarinya kemana-mana dan tetap saja hasilnya nihil. Nol besar.


To : Sinar Alfa

    gak ketemu kak, di gramed juga gak ada. Ini baru mau nyari lagi


Aku menekan tombol kirim. Sepersekian detik kemudian, handphoneku bergetar.


From : Sinar Alfa

    Eh hati-hati ya keluar malem :) atau mau kakak beliin aja?


Dahiku mengeryit. Aku tersenyum tipis mendapati perhatian kecil yang terselip dalam pesan singkatnya itu.

To : Sinar Alfa
    gausah lah kak, ngerepotin banget. Ini juga udah mau keluar kok

Pesan terkirim. Handphoneku bergetar lagi.

From : Sinar Alfa
    Udah gausah keluar de, biar kakak yg cari daripada kamu harus keluar malem :)

Aku tercekat setengah tak percaya. Nyaris terbuai oleh sebaris kata-kata sederhana yang entah mengapa terasa begitu manis.
Keesokan paginya, dia menemuiku dengan malu-malu di sudut koridor sekolah yang takkan pernah aku lupakan kenangannya. Selasa, 26 Februari 2013. Bel pergantian jam pelajaran kedua sekitar pukul delapan lewat sepuluh pagi.

From : Sinar Alfa

    Tunggu di meja piket lantai dua aja yah ;)


Aku membaca pesan singkatnya dengan perlahan, buru-buru aku bergegas menuruni tangga dari kelasku yang berada dilantai tiga. Begitu sampai ditempat yang dimaksud, sosok itu sudah terlebih dahulu ada disana.
          "Nih, dipake yah." Dia menyerahkan sebotol kecil tinta dengan senyuman manis yang menawan.
          "Makasih yah kak, maaf nyusahin terus!" Aku sedikit berteriak pada sosoknya yang sudah terlebih dahulu berlalu dengan wajah bersemu kemerahan yang menggemaskan.
Pagi itu, tugas seni rupaku selesai dengan sempurna. Dengan bantuan mantan gebetanku yang sama sekali tak pernah puas meledekku pesek. Sudahkah kamu memperhatikan ini, Sinar Alfaku?





Optical art. Tipuan mata. Tugas seni rupaku yang 'dulu' kamu bantu selesaikan. Iya, dulu– di saat semua terasa begitu indah. Bersamamu. Kini... semua terlihat begitu manis dalam balutan kenangan. Dalam keabadian setiap detail memori masa lalu kita, di dalam sekotak kardus :)

Sabtu, 08 Juni 2013

Di Malam Minggu…

Rissa tersenyum tipis saat memandangi semaraknya orang-orang yang berlalu lalang disekitarnya. Ini malam minggu yah? Hatinya bergumam dengan pedih. Dia kembali menatap langit malam tanpa bintang yang biasanya dia nikmati bersama sosok itu. Sosok pria manis yang pernah singgah dalam hidupnya. Kamu dimana? Padahal aku berharap kamu menemaniku malam ini. Tulisnya diatas lembaran kertas yang selalu menjadi temannya dalam pedih– buku puisi ciptaanya. Dulu, ini tempat terindah kita. Tempat kita memandangi bintang dengan gelak tawa dan senyuman manis. Kenang Rissa lagi.

Kenapa kamu pergi? Kenapa kamu lebih memilih hilang saat aku mulai menyadari betapa berharganya kebersamaan kita? Ah, semuanya terlambat. Aku baru menyadari betapa busuknya kamu ketika aku mulai percaya bahwa kamulah yang terbaik. Aku baru mulai mengerti betapa manisnya perasaan ini ketika kamu pergi tanpa pamit, kembali dengan sekenanya dan berpura-pura seakan semuanya masih baik-baik saja. Apanya yang baik? Apa kamu tak sadar kalau hatiku berantakan? Kamu tidak tahu betapa tersakitinya aku! Melihat kamu berpaling dengan perempuan mengagumkan yang ada disisimu sekarang... Aku terluka. Apakah aku terlambat menyayangimu? Atau… kamu yang terlalu cepat menyingkirkan aku? Rissa mulai menitikkan air mata.

Dari dulu kamu benar-benar menganggapku mainan, kan? Bodoh. Aku tahu aku bodoh. Aku tertipu oleh penampilan sederhana nan lugu itu. Aku dibuat buta oleh manisnya kata-kata yang kamu tebar dengan tanpa perasaan, dengan datar. Rissa mulai terisak. Tak berartikah semua kedekatan kita selama ini? Apakah aku terlalu konyol untuk mengharapkan sedikit saja ketulusan dari semua kenangan manis kita?

Rissa mengambil tissue dan menyeka air matanya yang tumpah dengan sendirinya. Aku kesakitan, sayang. Hatiku sakit. Dia membatin sambil memandangi kursi kosong di hadapannya. Kursi yang biasanya ditempati oleh pria manis berperangai buruk yang sudah meremuk-remukkan hatinya. Kamu terlepas saat bahkan belum benar-benar tergenggam. Kamu pergi saat kita bahkan belum benar-benar merasa dekat.

Rissa kembali memandang langit menghitam di hadapannya. Bintang-bintang pergi seiring menghilangnya kamu dari peradaban hidupku. Senyumku meredup bersamaan dengan hujan yang menetes dari pelupuk mataku. Aku terluka, sementara kamu sibuk tertawa. Aku menangis, sedangkan kamu sibuk mengumbar kata-kata manis. Di mana perasaanmu, Sayang? Berbahagialah dan tertawakan saja serpihan hatiku!

Rissa menangis sesenggukan, kelopak matanya terlihat kepayahan menahan butiran bening yang mulai menetes mengaburkan pandangannya. Beberapa minggu setelah kepergianmu, aku masih meringis. Hatiku enggan mensterilkan kamu dari setiap sudutnya, dia bersikeras mengenang. Tapi kemana perginya rasa manis kenangan? Saat aku menunggunya ditempat biasa kita tertawa, kenapa malah tangis yang kudapat?


Rissa mengedarkan pandangannya ke sekeliling, nuansa malam minggu jelas terasa dengan begitu banyaknya pasangan yang berlalu lalang dengan senyuman cerah yang terukir diwajah mereka. Rissa menerawang jauh.


Dimalam minggu aku temukan pelipur laraku, dimalam minggu pula aku kehilangannya.
Dimalam minggu aku menikmati sisa-sisa kebersamaan kita, dimalam minggu pula aku menangisinya.
Dimalam minggu…