Rabu, 01 Maret 2017

Tolong, Bantu Aku Berhenti

Padahal aku sudah pernah berhenti melakukannya, berusaha menguasai dan menahan diri. Menunggu sampai bekas goresan-goresan kecil di punggung tanganku hilang, menunggunya pulih dan kembali bersih.

Aku sudah pernah berhenti meninju-ninju dinding beton, berusaha tak mengakui bahwa aku merindukan saat-saat aku menikmati rasa sakitnya, berusaha terbiasa saat sensasi memar dan perih itu hilang dari buku-buku jariku, berusaha tak mengingat bagaimana leganya aku saat perih itu meresap ke rongga-rongga dada.

Aku sudah pernah berhenti melakukannya, mencari cara lain, berusaha melepaskan buih-buih kepedihan lewat tangisan yang aku sama sekali tak tahu tentang apa.

Aku sudah pernah hampir lupa, tapi tiba-tiba aku mulai lagi meninju-ninju perutku, menjambak rambutku dan menghantamkan tinju lainnya ke kepalaku. Rasa sakitnya masih di sana, mengganjal, terlalu banyak dan terlalu pahit sehingga kuanggap lebih melegakan jika berurusan dengan rasa sakit yang benar-benar nyata.

Setidaknya aku tak menggunakan benda tajam... Aku berusaha membenarkan diriku sendiri. ...atau lebih tepatnya belum ada. Batinku menambahkan.

Memar-memar di perutku terasa memuaskan, terlebih saat kepalaku berdenyut parah karena tinjuku yang keras, atau karena berbenturan dengan dinding yang lebih keras lagi. Air mataku masih tak bisa berhenti mengalir, pemikiran tentang satu hal merembet pada hal-hal lainnya. Satu tangisan akan berbuah tangisan lainnya yang lebih histeris. Aku berulangkali menyeka air mata, menyisakan mata bengkak, hidung merah dan pipi yang kaku bekas air mata mengering.


Kucubit punggung tanganku berulang kali, menyisakan banyak goresan berupa garis miring saling beradu yang nantinya akan menghitam.

Tak ada rasanya.

Kujambak rambutku sekuat tenaga.

Masih tak cukup sakit.

Kuayunkan lagi tinjuku ke kepala.

Tidak.

Aku sama sekali belum puas.

Kucakar lenganku dalam-dalam sampai menyisakan empat goresan panjang yang nyaris mengeluarkan darah.

Perih ini masih belum cukup.

Lagi.

Lagi.

Aku butuh lagi.

Tanganku meraih gunting lipat, sekejap menorehkannya ke atas paha, mengulanginya sambil menekan lebih dalam, menggores lebih keras agar melukai lebih banyak.

Sial, ini kurang tajam.

Darah menyeruak, hanya di sebagian titik dan sayangnya tak cukup banyak untuk menetes, tapi cukup untuk membuatku berhenti, menikmati saat-saat ketika perihnya bercampur dengan air mataku.

Aku melirik punggung tanganku, menemukan banyak garis-garis kecil memerah dan membengkak.

Tak akan ada yang memperhatikan juga. Aku membatin.

Oke.

Kali ini cukup.

Entah dengan lain kali.



***



Posting ini dibuat untuk ikut berpartisipasi mendukung gerakan SI Awareness Day (SIAD) 2017.

What is SIAD? Check it out on this youtube video by LifeSIGNS in here or you can visit their website on Life SIGNS

Come join me! Let's break down the mainstream stereotypes and spread the awareness about self-harm and self-injury! The most incredibly important thing is, Stop Judging!



Before you choose to hurt yourself, please give me a chance and read this first.

Sabtu, 07 Februari 2015

Aku Cuma Ingin Jatuh Cinta

Ini mungkin akan jadi salah satu momen awal tahun yang termanis, mengalahkan kenangan, membuat masa lalu malu karena kisah-kisahnya yang dangkal. Ini memang bukan yang pertama, karena yang pertama tak selalu berarti yang teristimewa, kan?

Aku memang keras kepala, rasanya sia-sia jika kisah tentangmu ini cuma kupendam dalam-dalam, kuputar ulang setiap malam tanpa menjadikannya abadi. Mungkin memang sedikit mustahil berharap kamu akan membacanya, tapi, sabodoteing! Aku terlalu bahagia untuk peduli.

Panggil saja dia Tuan Angin. Yah, kalau boleh jujur, aku memang sudah mulai bosan menjuluki seseorang, tapi, karena ini bukan buku harian, jadi penggunaan sedikit nama julukan boleh, kan? Dia, pria yang unik. Logatnya yang medok khas pulau dewata, senyumnya yang menawan, serta tatapan matanya dengan iris coklat tua yang sumpah demi rainbow jelly milk tea selalu membuatku ingin berlama-lama memandanginya.

Kami berceloteh begitu banyak, tertawa, lalu saling menatap, saling mengagumi, kemudian mengulum senyum, menanti siapakah yang akan terlebih dulu tersipu malu, lalu menikmati rona merah di pipinya. Itu adalah pertama kalinya pipiku sakit karena terlalu banyak tersenyum. Memang sakit, tapi aku tak bisa berhenti; dan akupun tak mau berhenti.

Kalian yang sudah lama mengenalku pasti tahu, aku selalu ragu dalam banyak hal termasuk cinta. Aku selalu khawatir akan sesuatu yang ada di luar kendaliku, seringkali merasa cemas karena terlalu banyak berspekulasi. Sekarang, aku tak mau lagi sibuk menerka-nerka, entah soal luka, soal membiarkan seseorang memiliki andil untuk membuatku menangis, soal berapa lama kami akan bertahan, soal bagaimana kami akan berakhir. Aku tak peduli. Kali ini, aku cuma ingin bersama dia yang membuatku bahagia, tanpa perlu takut akan kesedihan. Aku cuma ingin jatuh, meskipun mungkin akan sakit, meskipun mungkin akan tergores, tapi aku tetap ingin jatuh.

Aku cuma ingin berhenti khawatir soal apa yang akan terjadi, dan mulai menikmati apa yang sedang terjadi.


Aku cuma ingin jatuh cinta, Tuan.

Masa bodo soal patah hati dan embel-embelnya...


Rabu, 05 November 2014

Ketika Awal Berakhir




"Relationships are like glass. Sometimes it’s better to leave them broken than hurt yourself trying to put it back together."
Dear Matahari, yang sinarnya selalu menemani aku, yang katanya tak akan membiarkan bulan mengambil tahtamu...
Tak terasa, sudah satu bulan, yah? Ah! Iya, aku bohong. Bagian mananya yang tak terasa? Sampai detik ini, aku bahkan masih sering mengais sisa-sisa kebersamaan kita, mengenang sambil tetap berpegang teguh pada keputusan. Mengingat, tanpa pernah lupa pada alasan kita terpisahkan.
Apa?
Kenapa?
Bukan itu yang ingin aku bahas disini. Kalau boleh jujur, aku punya puluhan paragraf tentang semua alasan yang kamu pertanyakan. Tentang rasa kecewa, gelisah dan air mata. Tentang bagaimana aku memandangi langit-langit kamarku semalaman, tiba-tiba disergap insomnia dalam lamunan dan dilema yang sama setiap harinya. Keraguan memang tak pernah bisa seutuhnya disembunyikan, tapi dalam perjalanan sebuah hubungan, bukankah bertahan adalah keharusan?
Ada banyak alasan mengapa aku sempat bergeming, mengeluh dalam diam, dan berharap retakan itu akan sembuh dengan sendirinya, seperti sediakala. Ada lebih banyak alasan mengapa aku menolak mengakhiri, karena kehadiran rasa sesal, karena luka yang mungkin saja tergores, atau linangan air mata yang tak sanggup kulihat. Aku sudah cukup lama berlarut-larut, mengantisipasi segala macam resiko, melingkupi diriku dalam tameng sebelum akhirnya keputusan itu diketuk palu. Selesai. Bulat dan tak bisa diganggu gugat.
Dalam kisah ini, mungkin kamulah yang paling tersakiti. Sementara aku, mau tak mau jadi peran antagonis, seorang wanita jahat yang begitu tega melukaimu. Kejam, dan tak berperasaan. Bodoh, sampai cukup idiot untuk menyia-nyiakan ketulusanmu. Yah... kamu punya hak untuk menilai, dan aku punya hak untuk melakukan apa yang kuanggap benar. Kali ini, aku cuma ingin kamu tahu kalau ada beberapa situasi ketika kamu tak bisa lagi pakai hati, apalagi cinta. Terkadang, ada sesuatu yang tak bisa diperbaiki, ada banyak hal yang lebih baik ditinggalkan hancur, daripada menyakiti dirimu sendiri untuk memunguti serpihannya.
Sekarang, melihat isi lini waktumu yang masih penuh emot titik dua petik atas itu rasanya sangat tak adil bagiku. Beberapa kicauan selebtwit, penulis yang hobi galau itu juga berseliweran menohok aku dengan kata-kata yang menyedihkan; entah soal aku yang tak merasakan sakit, atau aku yang sudah latihan bilang cinta ke setiap orang...
Matahari, kita berakhir karena memang tak ada lagi yang bisa dipertahankan, ini sama sekali bukan soal pria lain yang selalu kamu khawatirkan. Tolong jangan terlalu naif dengan menganggapnya sebagai lukamu sendiri. Pisau bermata dua hanya bisa melukai jika salah satu mata pisaunya digenggam, lalu diayunkan ke arahmu. Dan kamu kira menggenggam mata pisau itu tidak melukai aku?
Ini cuma kiasan, Tuan. Aku tahu kamu benci kiasan, sebanyak aku membenci air mata sekarang. Yah, ada begitu banyak hal yang kubenci, tapi salah satunya.... untuk memilih antara bertahan, atau menyerah.




Maaf Matahari,

aku menyerah.

Selasa, 21 Oktober 2014

Biarlah Masa Lalu

Sial! Bukannya aku harusnya bangga, atau tertawa? Tapi reaksi pertamaku cuma melongo, nyaris gemetaran, masih meraba-raba kebenaran dari kalimat yang kubaca barusan. Ah, itu sudah terlalu lama, Tuan. Masa iya baru kamu baca sekarang?


Oke, kamu cukup lihai dan juga cukup bodoh jika baru menemukannya sekarang. Itu. Hampir. Dua. Tahun. Lalu. YaTuhan! Kamu bahkan butuh dua tahun untuk menyadari postingan itu? Tak heran jika aku terkejut, kan? Mau apa kamu lihat-lihat blog-ku sekarang?



Ya, mungkin aku pernah berandai-andai kamu membacanya, sekitar dua tahun lalu, saat pertama kalinya kamu mengenalkanku pada luka, pada hujan air mata. Aku menulisnya sebagai pelampiasan, sebagai ganti jeritan dan makianku yang terbungkam, sebagai balas dendam manis yang memberiku ketenangan. Dan kamu tak tahu, kan, berapa banyak pujian yang kudapat dari tulisan tentang luka yang kamu torehkan? Tulisan itu sebuah senyuman sinis tanda kemenangan. Aku menang melawan tipu dayamu yang curang, aku bangkit dari keterpurukan dan bahkan di elu-elukan! Kamu, lihat? Aku bahkan menjadi lebih baik setelah kamu tinggalkan :p



Pada titik ini, aku tak bisa jadi lebih pamer lagi. Kamu– si masa lalu yang entah mengapa bisa nyasar ke sini, mungkin kamu masih suka mencari-cari kabarku dalam diam. Jadi stalker sosial mediaku dan kembali terperosok kenangan. Haha, ayolah Tuan, sebegitu susahnyakah mengirimiku pesan 'Hai, apa kabar?'.



Pada detik ini, kamu sendiri tahu, tak ada lagi masa lalu yang bisa kugali. Aku sudah kehabisan bahan kenangan, terlalu malas mengobrak-abrik ingatan untuk secuil masa lalu yang hampir tak berbekas. Masa lalu yang mulai kamu bawa lagi ke permukaan...



Yah, laporan pageviews di dashboard blog-ku tak mungkin berbohong. Pengunjung yang biasanya cuma satu-dua selama seminggu, eh, tiba-tiba jadi enam puluh satu dalam sehari? Astaga, Tuan! Itu benar-benar kamu semua? Hufttt. Segitu antusiasnya, yah, kamu membaca cerita tentang dirimu? Dasar narsistik! Padahal aku yakin matamu pegal membaca deretan alinea itu. Aku juga tahu kalau ada beberapa kalimat yang terlalu harfiah, bahkan ada metafora yang barusan membuatku tertawa saat membacanya hehe, maaf, Tuan. Jeritan orang patah hati memang suka tak karuan bunyinya. Wong, hatinya saja berantakan gitu, kok.



Haduhhh, jangan terlalu senang, Tuan. Masa dikatai dan dimaki-maki dalam tulisanku, eh, kamu malah jadi senang? Abis kejedot dimana, Tuan? Sudah pernah ditoyor pakai palu godem, belum?-_- haha begini sajalah, Tuan. Anggap semua tulisanku ini sebagai ucapan terimakasih atas kado 'luka' darimu. Toh, lukaku juga sudah lama sembuh, masih ada luka baru, sih, tapi bukan urusanmu :p



Oh iya, ngomong-ngomong, kamu suka, kan, nama julukanmu? Kalau sempat, kabari aku, ya, soal posting favoritmu. Siapa tahu nama kamu bisa aku cantumkan di sana, kan? :p



Tuan, aku mau titip saran. Lebih baik akhir-akhir ini kamu banyak-banyak berdoa saja, yah. Soalnya Karma lagi beli jet pribadi, nih, biar cepat sampai ke kamu :* hahaha









Dari masa lalu,

Perlukah kucantumkan namamu?

Selasa, 29 Juli 2014

Kamu Harus Tahu

Berawal dari satu emoticon love di sosial media Path yang sekejap membuatku melongo... Ah, bego! Batinku mengumpat dalam hati. Sedetik kemudian, jantungku mulai berdetak tidak karuan, mengalirkan rasa gelisah yang langsung membuat tubuhku gemetar. Apakah aku telah menyakitinya?


Perempuan itu tak bisa kubilang sahabat dekat, kami hanya teman yang pernah melalui hal-hal indah bersama, tapi bukan berarti aku bisa begitu saja menyakitinya. Kami tak pernah punya masalah sebelumnya, beberapa tahun mengenalnya, aku tahu dia bukan tipe perempuan yang punya ribuan alasan untuk dibenci, dia cantik, dan cukup cuek untuk tidak hanya memuji-muji kecantikannya. Aku tak pernah menyangka bahwa posting yang sudah begitu lama itu akan terbaca olehnya, bahkan mungkin membuatnya murka, atau terluka. Sebuah kicauan yang dia tulis sesudahnya menunjukkan kesan sinis yang membuatku semakin merasa bersalah. Seharusnya aku tak pernah mencantumkan link itu pada kicauanku sebelumnya...



Padahal sudah hampir setahun, aku kira sedikit bumbu nostalgia tak akan berdampak apa-apa, tapi ternyata, itu bisa membuat sebagian orang melengos dan mendecak kesal. Apalagi jika masa lalu itu berhubungan erat dengan orang yang dicintainya sekarang. Aku mengerti bagaimana rasanya, aku tahu bagaimana panasnya hatimu, bagaimana perihnya itu terasa dan bagaimana kobaran api amarah itu siap melumat aku; sang penikmat nostalgia.



Memang tak ada yang salah jika kamu cemburu, aku malah akan sangat bertanya-tanya jika kamu sama sekali tak peduli. Aku tahu kamu menyayanginya, dan seratus juta persen dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku sama sekali tak pernah menginginkannya kembali, apalagi berusaha merebutnya darimu.



Kamu tahu aku bukan pencuri. Aku cuma suka mengabadikan masa lalu dalam tulisan, itu saja. Maaf telah membuatmu gerah atas nostalgia yang memang tidak pada tempatnya ini. Aku tidak tahu bahwa sekadar kutipan maaf dan terimakasihku untuknya akan membuatmu sesinis ini. Maaf, tapi harusnya kamu tahu, aku cuma pernah ada di masa lalu. Dan apa yang pernah terjadi di masa lalu, sudah lama ditinggalkan disana. Jauh di masa lalu.



Tolong maafkan kelancanganku yang pernah menulis tentang dia yang (semoga) akan jadi masa depanmu. Kuharap dia tahu, bahwa kamu mencintainya sedalam dia mencintaimu.






Dari temanmu,


yang tak pernah ingin jadi pencuri