Sabtu, 25 April 2020

Ketika Seisi Jagat Raya Bercanda


Dear Tuan yang membingungkan, yang pernah coba kulupakan namun ternyata tak benar-benar hilang; yang bertahun-tahun kukagumi dan pernah kuikhlaskan, tapi pada akhirnya tetap kembali jadi pujaan.

***

Aku tak pernah benar-benar mengenalnya
Siluet tubuhnya adalah satu-satunya hal yang bisa kurindukan
Tatapan matanya dari balik kacamata hitam bergaris putih di tangkainya;
memang tak pernah ditujukan untukku
Namanya hanya bisa kudengar dari desas-desus disekitarku,
tapi apalah arti sebuah nama jika bahkan hatiku sudah menjadi miliknya.

***

Ini kisah yang saking basinya, sudah lama ingin kulupakan. Kisah yang kubiarkan berlumut dalam draft karena absennya plot twist yang membuat alurnya sedatar lautan tanpa ombak. Aku tak pernah menginginkan ini, menjadi seorang pengagum rahasia tak pernah ada dalam daftar cita-citaku di masa depan. Aku juga tak mau berperan dalam kisah cinta bertepuk sebelah tangan yang tragis. Kisah yang tak akan berlanjut kemana-mana karena sudah berakhir di awal. Kisah yang memiliki epilog pada prolognya. Aku sempat mengira kalau perasaan ini tak akan bertahan lama, tapi di tahun ketujuh, ketika aku mendengar namamu disandingkan dengan namaku, ada gejolak yang membuatku mendadak mual, terlalu bahagia, dan membuat dadaku sesak saking cepatnya jantungku berdetak.

Barusan memang aku bilang epilog, Tuan, tapi kamu tahu sendiri, kan? Semesta sering keterlaluan kalau bercanda. Jadi di sinilah aku sekarang, melanjutkan draft usang dengan plot twist yang kukira tak akan pernah datang.

***

This is me praying that, this was the very first page not where the story line ends. My thoughts will echo your name until I see you again. These are the words I held back, as I was leaving too soon, I was enchanted to meet you!

(Enchanted, Taylor Swift)

***

Ini bukan seperti yang pernah kubayangkan. Tak ada jabatan tangan, tak ada perkenalan formal yang sempat kukira akan terjadi. Aku tak mendengarmu menyebutkan namamu. Kita bertingkah seakan sudah saling mengenal, duduk bersebelahan, dan mulai saling bertukar kalimat. Aku menikmati suara bassmu yang mendadak memenuhi ruang dengarku, sekaligus mencuri-curi kesempatan untuk mengabadikan wajahmu dari jarak yang begitu dekat. Sesekali lengan kita bersentuhan, wangi parfummu menguar membuatku bersusah payah menahan diri untuk berhenti mengendusmu.

Pandangan matamu yang akhirnya mengakui kehadiranku.

Senyuman manismu yang akhirnya ditujukan padaku.

Suara bassmu yang akhirnya kamu ucapkan untukku.

Semuanya masih terasa seperti mimpi.

Aku pernah percaya bahwa ini mustahil, tapi di sinilah kita sekarang. Kamu membaca tulisan ini dengan kacamata barumu, dan aku berharap aku masih bisa berkilah soal siapa yang ada dalam tulisan ini...





Dari aku,

yang tak lagi kasat mata





Jakarta, 12 April 2015

Mon Premier Amour

Hai.

Bonjour.

Salam dariku, wanita yang selalu kehilangan keberanian untuk menyapamu dalam nyata.

Kuucapkan selamat pagi, selamat siang, selamat sore, atau mungkin selamat malam? Aku tidak tahu kapan kamu akan berkesempatan membaca tulisan ini. Entah kalimat macam apa yang harus kupilih untuk memulainya, setidaknya, kuharap sapaan singkat itu mampu membuatmu mengernyitkan dahi, memandangi layar smartphone-mu dengan pandangan antusias dan senyum merekah, seperti biasanya...

Ijinkan aku memperkenalkan diri, Tuan. Namaku Dhea, bukan nama yang terlalu asing jika kamu pernah sedikit saja memperhatikan segelintir orang disekitarmu menyebutkannya. Aku... bisa dibilang pengagum rahasiamu. Wanita yang gemar mencuri-curi pandang ke arahmu dengan getar-getar aneh yang seenaknya menyusup ke dalam hati, yang kata kebanyakan orang— cinta.

Semua terpatri begitu jelas dalam ingatanku... suatu hari di penghujung tahun dua ribu delapan, ketika hujan mengenalkan aku pada aroma petrichor, kita bertemu. Senyummu menyapa aku yang mendadak melongo memandangi wajah asing itu, sementara kamu sibuk berlalu, melewatiku dengan gagah tanpa tahu bahwa kamu baru saja mengguncangkan duniaku! Tepat lima tahun lalu, umurku masih sebelas, masih terlalu bau kencur untuk sekadar mengatakan bahwa aku telah terpesona; terlebih jatuh cinta. Saat itu, aku bahkan tidak tahu siapa namamu, berapa umurmu atau apapun latar belakangmu. Aku cuma terpana, menatapi kepergianmu dengan rasa penasaran yang semakin membuncah dalam dada. Aku harus segera mengenalmu! Sebulan... dua bulan... butuh waktu begitu lama untuk mengetahui bahwa usia kita hanya terpaut beberapa tahun; tak sampai sewindu. Dengan titel mahasiswa di sebuah Universitas Swasta ternama, sosok berkacamata itu tak pernah bisa luput mengundang perhatianku. Gerak-gerikmu yang khas, gaya bicaramu yang unik dan deretan gigi putih yang tampak begitu manis saat tersenyum. Akupun ikut tersenyum, mengagumi kharismamu...

Sayangnya cinta memang tak melulu soal tawa. Di tahun berikutnya, jarak membentang seolah menghadang aku untuk mengagumimu, tapi bukan cinta namanya kalau tak bisa membuatmu tegar. Aku masih tetap mengagumimu dari kejauhan yang bahkan lebih jauh lagi. Akun social media-mu adalah satu-satunya tempat aku melepas rindu, rindu yang semakin berkarat... rindu yang sukarela berkarat agar yang dirindukan semakin sukses di kejauhan.

Lima tahun berlalu sekelebat mata. Kini, aku sudah tumbuh menjadi sosok yang jauh lebih dewasa. Aku bukan lagi bocah ingusan yang percaya bahwa takdir akan menyatukan kita, aku bukan lagi bocah naif yang berharap kisahku akan berakhir dengan "bahagia selamanya", aku mulai menyadari bahwa yang kudambakan selama lima tahun belakangan ini hanyalah khayalan yang harus kuikhlaskan untuk tidak terjadi. Sudah setengah dasawarsa, Tuan. Aku berusaha menyembunyikan segalanya dari dunia, menutup rahasia ini rapat-rapat dan memendam sedalam-dalamnya. Aku pernah percaya bahwa cinta pada pandangan pertama akan berakhir secepat cinta itu berawal, tapi di sinilah aku sekarang... lima tahun kemudian, setelah aku jatuh cinta dan patah hati untuk entah kali keberapa, namun setiap aku mendengar namamu disebut, hatiku mencelus. Rasa yang (seharusnya) sudah kadaluarsa itu kembali bangkit dan merajai hatiku. Setiap kali aku melihat sosokmu... aku kembali jatuh cinta, dan kamu tak tahu, kan, betapa konyolnya jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama?

Sekarang, tepat seribu delapan ratus dua puluh lima hari dari hari bersejarah itu, tempat penuh kenangan ini kembali menyatukan kita dengan khayalan yang tak kunjung jadi kenyataan.

Aku masih tak kasat mata di hadapanmu, dan entah kapan hal itu akan berubah.






Dari pengagum rahasiamu,

yang ingin berhenti merahasiakannya.






Jakarta, 12 Desember 2013.

Sabtu, 08 Juli 2017

Adakah Cinta Tanpa Air Mata?

Ada sesuatu yg salah terjadi. Padahal sepertinya aku masih jauh dari siklus bulananku, kadar hormonku seharusnya ada di titik normal, tapi hatiku seakan terombang-ambing sesukanya; melayang-layang lalu jatuh, diajak terbang lalu didorong hingga terjerembab. Buatku, ini sudah bukan patah lagi namanya, karena ceceran serpihannya saat terakhir kali dia remukpun masih belum sempat aku benahi. Lukanya masih menganga, dan aku seolah tak berniat untuk berusaha mengobatinya. Entah ini cuma aku, atau memang kamu yang semakin tak bisa kutoleransi lagi?

Kecewa bertaburan layaknya dedaunan yang menyerah pada musim gugur, berbuah helaan napas yang disusul rasa tercabik-cabik dalam dada yang meletup-letup minta uapnya dikeluarkan. Tetesan embun dari sudut-sudut matakupun jatuh, mengaburkan pandangan, membawaku kembali pada isakan yang bisingnya kuredam dengan bantal. Aku hampir lupa rasanya cinta tanpa air mata. Ya, kalau pada dasarnya itu memang benar-benar pernah ada.

Air mata, entah mengapa jadi identik dengan cinta. Padahal air mata hanya sebatas rute pelarian konyol yang pintunya kebetulan terbuka, tak berbuat apa-apa terhadap luka selain menambah perih karena kandungan natriumnya. Dia kebanyakan dipilih karena 'gampangan', tak perlu modal apa-apa bahkan seringkali menetes tanpa diniatkan, mudah dihapus juga diisi ulang, tanpa residu, tak menyisakan bekas terkecuali mata sembab dan hidung memerah sisa menangis semalam...

Jadi,

sebenarnya apakah kaitan antara Cinta dan Air Mata?

Apakah Cinta semacam racun dan Air Matalah penawarnya?

Apakah Air Mata itu asap dan Cinta itu api seperti dalam pepatah?

Apakah Cinta sang nenek buyut dan Air Mata adalah cicit pertamanya?

atau mungkin Cinta itu sejenis Chiki dan Air Mata adalah flavor terbest sellernya?

Terakhir, setahuku, status mereka 'It's complicated'.

Minus lima derajat dari pacaran, tapi dua derajat ke kanan melampaui friendzone.

Mau dibilang pasangan bukan... tapi dibilang teman juga, 'Ah, masa iya temenan doang?'





***






Peringatan & Perhatian :

• Tulisan ini dapat menyebabkan baper akut, galau hingga tiba-tiba minta kepastian.
• Ketidakjelasan status dalam dosis besar dan jangka panjang dapat meningkatkan resiko patahnya hati.
• Pembaca yang hipersensitif (baca : baperan) terhadap pacar orang harap segera bertobat.
• Hati-hati! Mendadak menuntut kejelasan status dapat beresiko tinggi merusak hubungan.
• Bila setelah 5 (lima) hari galau tidak hilang, segera hubungi mantan dan minta balikan.


Salam ngaco!



Best Regards,


Kadek Radhita

Rabu, 01 Maret 2017

Tolong, Bantu Aku Berhenti

Padahal aku sudah pernah berhenti melakukannya, berusaha menguasai dan menahan diri. Menunggu sampai bekas goresan-goresan kecil di punggung tanganku hilang, menunggunya pulih dan kembali bersih.

Aku sudah pernah berhenti meninju-ninju dinding beton, berusaha tak mengakui bahwa aku merindukan saat-saat aku menikmati rasa sakitnya, berusaha terbiasa saat sensasi memar dan perih itu hilang dari buku-buku jariku, berusaha tak mengingat bagaimana leganya aku saat perih itu meresap ke rongga-rongga dada.

Aku sudah pernah berhenti melakukannya, mencari cara lain, berusaha melepaskan buih-buih kepedihan lewat tangisan yang aku sama sekali tak tahu tentang apa.

Aku sudah pernah hampir lupa, tapi tiba-tiba aku mulai lagi meninju-ninju perutku, menjambak rambutku dan menghantamkan tinju lainnya ke kepalaku. Rasa sakitnya masih di sana, mengganjal, terlalu banyak dan terlalu pahit sehingga kuanggap lebih melegakan jika berurusan dengan rasa sakit yang benar-benar nyata.

Setidaknya aku tak menggunakan benda tajam... Aku berusaha membenarkan diriku sendiri. ...atau lebih tepatnya belum ada. Batinku menambahkan.

Memar-memar di perutku terasa memuaskan, terlebih saat kepalaku berdenyut parah karena tinjuku yang keras, atau karena berbenturan dengan dinding yang lebih keras lagi. Air mataku masih tak bisa berhenti mengalir, pemikiran tentang satu hal merembet pada hal-hal lainnya. Satu tangisan akan berbuah tangisan lainnya yang lebih histeris. Aku berulangkali menyeka air mata, menyisakan mata bengkak, hidung merah dan pipi yang kaku bekas air mata mengering.


Kucubit punggung tanganku berulang kali, menyisakan banyak goresan berupa garis miring saling beradu yang nantinya akan menghitam.

Tak ada rasanya.

Kujambak rambutku sekuat tenaga.

Masih tak cukup sakit.

Kuayunkan lagi tinjuku ke kepala.

Tidak.

Aku sama sekali belum puas.

Kucakar lenganku dalam-dalam sampai menyisakan empat goresan panjang yang nyaris mengeluarkan darah.

Perih ini masih belum cukup.

Lagi.

Lagi.

Aku butuh lagi.

Tanganku meraih gunting lipat, sekejap menorehkannya ke atas paha, mengulanginya sambil menekan lebih dalam, menggores lebih keras agar melukai lebih banyak.

Sial, ini kurang tajam.

Darah menyeruak, hanya di sebagian titik dan sayangnya tak cukup banyak untuk menetes, tapi cukup untuk membuatku berhenti, menikmati saat-saat ketika perihnya bercampur dengan air mataku.

Aku melirik punggung tanganku, menemukan banyak garis-garis kecil memerah dan membengkak.

Tak akan ada yang memperhatikan juga. Aku membatin.

Oke.

Kali ini cukup.

Entah dengan lain kali.



***



Posting ini dibuat untuk ikut berpartisipasi mendukung gerakan SI Awareness Day (SIAD) 2017.

What is SIAD? Check it out on this youtube video by LifeSIGNS in here or you can visit their website on Life SIGNS

Come join me! Let's break down the mainstream stereotypes and spread the awareness about self-harm and self-injury! The most incredibly important thing is, Stop Judging!



Before you choose to hurt yourself, please give me a chance and read this first.

Sabtu, 07 Februari 2015

Aku Cuma Ingin Jatuh Cinta

Ini mungkin akan jadi salah satu momen awal tahun yang termanis, mengalahkan kenangan, membuat masa lalu malu karena kisah-kisahnya yang dangkal. Ini memang bukan yang pertama, karena yang pertama tak selalu berarti yang teristimewa, kan?

Aku memang keras kepala, rasanya sia-sia jika kisah tentangmu ini cuma kupendam dalam-dalam, kuputar ulang setiap malam tanpa menjadikannya abadi. Mungkin memang sedikit mustahil berharap kamu akan membacanya, tapi, sabodoteing! Aku terlalu bahagia untuk peduli.

Panggil saja dia Tuan Angin. Yah, kalau boleh jujur, aku memang sudah mulai bosan menjuluki seseorang, tapi, karena ini bukan buku harian, jadi penggunaan sedikit nama julukan boleh, kan? Dia, pria yang unik. Logatnya yang medok khas pulau dewata, senyumnya yang menawan, serta tatapan matanya dengan iris coklat tua yang sumpah demi rainbow jelly milk tea selalu membuatku ingin berlama-lama memandanginya.

Kami berceloteh begitu banyak, tertawa, lalu saling menatap, saling mengagumi, kemudian mengulum senyum, menanti siapakah yang akan terlebih dulu tersipu malu, lalu menikmati rona merah di pipinya. Itu adalah pertama kalinya pipiku sakit karena terlalu banyak tersenyum. Memang sakit, tapi aku tak bisa berhenti; dan akupun tak mau berhenti.

Kalian yang sudah lama mengenalku pasti tahu, aku selalu ragu dalam banyak hal termasuk cinta. Aku selalu khawatir akan sesuatu yang ada di luar kendaliku, seringkali merasa cemas karena terlalu banyak berspekulasi. Sekarang, aku tak mau lagi sibuk menerka-nerka, entah soal luka, soal membiarkan seseorang memiliki andil untuk membuatku menangis, soal berapa lama kami akan bertahan, soal bagaimana kami akan berakhir. Aku tak peduli. Kali ini, aku cuma ingin bersama dia yang membuatku bahagia, tanpa perlu takut akan kesedihan. Aku cuma ingin jatuh, meskipun mungkin akan sakit, meskipun mungkin akan tergores, tapi aku tetap ingin jatuh.

Aku cuma ingin berhenti khawatir soal apa yang akan terjadi, dan mulai menikmati apa yang sedang terjadi.


Aku cuma ingin jatuh cinta, Tuan.

Masa bodo soal patah hati dan embel-embelnya...