Selasa, 16 Juni 2020

Male Domination in "The Yellow Wall Paper" by Charlotte Perkins Gilman



            The Yellow Wall Paper written by Charlotte Perkins Gilman is a short story about a woman who suffers from a nervous depression after giving birth to her son and being forced to have a perfect rest by her husband, John, in a huge old mansion during the summer. The woman, whose name is unstated, is not allowed to ‘work’ because her husband, a physician of high standing, thinks that tonics, exercise, air and a lot of sleep will make her get well soon. This story somehow illustrates that women have a little to no control over their own life. The husband, on the other hand, always in control about everything; even though it is as trivial as a choice of room. The woman wants one downstairs with ‘‘roses all over the windows’’, but her husband would not hear of it and choose the nursery at the top of the house instead. ‘‘[H]e... hardly lets [his wife] stir without special direction.’’  Afterward, the woman hints her dislikeness of the yellow wallpaper by saying,’’I never saw a worse paper in my life’’ and asks her husband to re-paper the room or let her go downstairs. John with all his sweet talk calls his wife ’’a blessed little goose, and [says] he would go down cellar if [he] wished’’ but yet, he still does not re-paper the room nor let her move downstairs. These events represent how dominant John’s opinions over his wife's will, he always convinces his wife that he does it for her own good, because ‘‘he is so wise’’ and ‘‘he loves [her] very dearly.’’ When in fact, he does not let his wife choose the room downstairs because there is ‘‘no near room for him’’ to work in.
The main character of this story, the woman, represent the protagonist character. Ever since the story starts, the woman wants to ‘‘work’’. She believes that ‘‘congenial work, with excitement and change, would do [her] good.’’ and ‘‘it would relieve the press of ideas and rest [her]’’, but her husband, as the antagonist, forbid her to do so. He wants her to ‘‘have perfect rest’’ and ‘‘sleep all [she] can’’ until she is well again. This prohibition makes her ‘‘work’’ secretly, she only writes when John is away, and ‘‘it does exhaust [her] a good deal— having to be so sly about it.’’ She hates to write in secret. It makes her feel tired easily and ‘‘[i]t is so discouraging not to have any advice and companionship about [her] work.’’
The woman then starts to lose her strength. She lies down a lot in her room but does not sleep. She keeps staring at the yellow wallpaper, trying to observe its patterns, colors, smells and everything. Soon, she gets obsessed with the yellow wallpaper because she spends too much time lying on the bed, with nothing to do but staring at the wallpaper. She examines how the patterns look like ‘‘strangled heads and bulbous eyes and waddling fungus growths’’ before starts to fancy that there is ‘‘a woman stooping down and creeping about behind the pattern.’’ She starts to imagine something that is more likely a reflection of what she feels in that room; trapped. As she starts to lose the line between fantasy and reality, on the last day of her stay in the mansion, she knows that this is the day where she finally will be free! ‘‘[She peels] off all the paper [she] could reach standing on the floor’’ and tells her husband that ‘‘‘[she has] got out at last,... in spite of [her husband] and [her husband's sister]! And [she has] pulled off most of the paper, so [they] can't put [her] back!’’’
The issue of male domination in a relationship can be seen in the passage by how the wife, as a narrator, repeatedly saying ‘‘John says’’ or ‘‘He said’’ in every other possible word. The husband’s perspective and opinion matter more than his wife’s wishes, although the woman already has depression, her husband still forced his will and made his wife obey his wishes. This condition caused the woman’s depression got worse and made her lose her sanity.


Sabtu, 25 April 2020

Ketika Seisi Jagat Raya Bercanda


Dear Tuan yang membingungkan, yang pernah coba kulupakan namun ternyata tak benar-benar hilang; yang bertahun-tahun kukagumi dan pernah kuikhlaskan, tapi pada akhirnya tetap kembali jadi pujaan.

***

Aku tak pernah benar-benar mengenalnya
Siluet tubuhnya adalah satu-satunya hal yang bisa kurindukan
Tatapan matanya dari balik kacamata hitam bergaris putih di tangkainya;
memang tak pernah ditujukan untukku
Namanya hanya bisa kudengar dari desas-desus disekitarku,
tapi apalah arti sebuah nama jika bahkan hatiku sudah menjadi miliknya.

***

Ini kisah yang saking basinya, sudah lama ingin kulupakan. Kisah yang kubiarkan berlumut dalam draft karena absennya plot twist yang membuat alurnya sedatar lautan tanpa ombak. Aku tak pernah menginginkan ini, menjadi seorang pengagum rahasia tak pernah ada dalam daftar cita-citaku di masa depan. Aku juga tak mau berperan dalam kisah cinta bertepuk sebelah tangan yang tragis. Kisah yang tak akan berlanjut kemana-mana karena sudah berakhir di awal. Kisah yang memiliki epilog pada prolognya. Aku sempat mengira kalau perasaan ini tak akan bertahan lama, tapi di tahun ketujuh, ketika aku mendengar namamu disandingkan dengan namaku, ada gejolak yang membuatku mendadak mual, terlalu bahagia, dan membuat dadaku sesak saking cepatnya jantungku berdetak.

Barusan memang aku bilang epilog, Tuan, tapi kamu tahu sendiri, kan? Semesta sering keterlaluan kalau bercanda. Jadi di sinilah aku sekarang, melanjutkan draft usang dengan plot twist yang kukira tak akan pernah datang.

***

This is me praying that, this was the very first page not where the story line ends. My thoughts will echo your name until I see you again. These are the words I held back, as I was leaving too soon, I was enchanted to meet you!

(Enchanted, Taylor Swift)

***

Ini bukan seperti yang pernah kubayangkan. Tak ada jabatan tangan, tak ada perkenalan formal yang sempat kukira akan terjadi. Aku tak mendengarmu menyebutkan namamu. Kita bertingkah seakan sudah saling mengenal, duduk bersebelahan, dan mulai saling bertukar kalimat. Aku menikmati suara bassmu yang mendadak memenuhi ruang dengarku, sekaligus mencuri-curi kesempatan untuk mengabadikan wajahmu dari jarak yang begitu dekat. Sesekali lengan kita bersentuhan, wangi parfummu menguar membuatku bersusah payah menahan diri untuk berhenti mengendusmu.

Pandangan matamu yang akhirnya mengakui kehadiranku.

Senyuman manismu yang akhirnya ditujukan padaku.

Suara bassmu yang akhirnya kamu ucapkan untukku.

Semuanya masih terasa seperti mimpi.

Aku pernah percaya bahwa ini mustahil, tapi di sinilah kita sekarang. Kamu membaca tulisan ini dengan kacamata barumu, dan aku berharap aku masih bisa berkilah soal siapa yang ada dalam tulisan ini...





Dari aku,

yang tak lagi kasat mata





Jakarta, 12 April 2015

Mon Premier Amour

Hai.

Bonjour.

Salam dariku, wanita yang selalu kehilangan keberanian untuk menyapamu dalam nyata.

Kuucapkan selamat pagi, selamat siang, selamat sore, atau mungkin selamat malam? Aku tidak tahu kapan kamu akan berkesempatan membaca tulisan ini. Entah kalimat macam apa yang harus kupilih untuk memulainya, setidaknya, kuharap sapaan singkat itu mampu membuatmu mengernyitkan dahi, memandangi layar smartphone-mu dengan pandangan antusias dan senyum merekah, seperti biasanya...

Ijinkan aku memperkenalkan diri, Tuan. Namaku Dhea, bukan nama yang terlalu asing jika kamu pernah sedikit saja memperhatikan segelintir orang disekitarmu menyebutkannya. Aku... bisa dibilang pengagum rahasiamu. Wanita yang gemar mencuri-curi pandang ke arahmu dengan getar-getar aneh yang seenaknya menyusup ke dalam hati, yang kata kebanyakan orang— cinta.

Semua terpatri begitu jelas dalam ingatanku... suatu hari di penghujung tahun dua ribu delapan, ketika hujan mengenalkan aku pada aroma petrichor, kita bertemu. Senyummu menyapa aku yang mendadak melongo memandangi wajah asing itu, sementara kamu sibuk berlalu, melewatiku dengan gagah tanpa tahu bahwa kamu baru saja mengguncangkan duniaku! Tepat lima tahun lalu, umurku masih sebelas, masih terlalu bau kencur untuk sekadar mengatakan bahwa aku telah terpesona; terlebih jatuh cinta. Saat itu, aku bahkan tidak tahu siapa namamu, berapa umurmu atau apapun latar belakangmu. Aku cuma terpana, menatapi kepergianmu dengan rasa penasaran yang semakin membuncah dalam dada. Aku harus segera mengenalmu! Sebulan... dua bulan... butuh waktu begitu lama untuk mengetahui bahwa usia kita hanya terpaut beberapa tahun; tak sampai sewindu. Dengan titel mahasiswa di sebuah Universitas Swasta ternama, sosok berkacamata itu tak pernah bisa luput mengundang perhatianku. Gerak-gerikmu yang khas, gaya bicaramu yang unik dan deretan gigi putih yang tampak begitu manis saat tersenyum. Akupun ikut tersenyum, mengagumi kharismamu...

Sayangnya cinta memang tak melulu soal tawa. Di tahun berikutnya, jarak membentang seolah menghadang aku untuk mengagumimu, tapi bukan cinta namanya kalau tak bisa membuatmu tegar. Aku masih tetap mengagumimu dari kejauhan yang bahkan lebih jauh lagi. Akun social media-mu adalah satu-satunya tempat aku melepas rindu, rindu yang semakin berkarat... rindu yang sukarela berkarat agar yang dirindukan semakin sukses di kejauhan.

Lima tahun berlalu sekelebat mata. Kini, aku sudah tumbuh menjadi sosok yang jauh lebih dewasa. Aku bukan lagi bocah ingusan yang percaya bahwa takdir akan menyatukan kita, aku bukan lagi bocah naif yang berharap kisahku akan berakhir dengan "bahagia selamanya", aku mulai menyadari bahwa yang kudambakan selama lima tahun belakangan ini hanyalah khayalan yang harus kuikhlaskan untuk tidak terjadi. Sudah setengah dasawarsa, Tuan. Aku berusaha menyembunyikan segalanya dari dunia, menutup rahasia ini rapat-rapat dan memendam sedalam-dalamnya. Aku pernah percaya bahwa cinta pada pandangan pertama akan berakhir secepat cinta itu berawal, tapi di sinilah aku sekarang... lima tahun kemudian, setelah aku jatuh cinta dan patah hati untuk entah kali keberapa, namun setiap aku mendengar namamu disebut, hatiku mencelus. Rasa yang (seharusnya) sudah kadaluarsa itu kembali bangkit dan merajai hatiku. Setiap kali aku melihat sosokmu... aku kembali jatuh cinta, dan kamu tak tahu, kan, betapa konyolnya jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama?

Sekarang, tepat seribu delapan ratus dua puluh lima hari dari hari bersejarah itu, tempat penuh kenangan ini kembali menyatukan kita dengan khayalan yang tak kunjung jadi kenyataan.

Aku masih tak kasat mata di hadapanmu, dan entah kapan hal itu akan berubah.






Dari pengagum rahasiamu,

yang ingin berhenti merahasiakannya.






Jakarta, 12 Desember 2013.

Sabtu, 08 Juli 2017

Adakah Cinta Tanpa Air Mata?

Ada sesuatu yg salah terjadi. Padahal sepertinya aku masih jauh dari siklus bulananku, kadar hormonku seharusnya ada di titik normal, tapi hatiku seakan terombang-ambing sesukanya; melayang-layang lalu jatuh, diajak terbang lalu didorong hingga terjerembab. Buatku, ini sudah bukan patah lagi namanya, karena ceceran serpihannya saat terakhir kali dia remukpun masih belum sempat aku benahi. Lukanya masih menganga, dan aku seolah tak berniat untuk berusaha mengobatinya. Entah ini cuma aku, atau memang kamu yang semakin tak bisa kutoleransi lagi?

Kecewa bertaburan layaknya dedaunan yang menyerah pada musim gugur, berbuah helaan napas yang disusul rasa tercabik-cabik dalam dada yang meletup-letup minta uapnya dikeluarkan. Tetesan embun dari sudut-sudut matakupun jatuh, mengaburkan pandangan, membawaku kembali pada isakan yang bisingnya kuredam dengan bantal. Aku hampir lupa rasanya cinta tanpa air mata. Ya, kalau pada dasarnya itu memang benar-benar pernah ada.

Air mata, entah mengapa jadi identik dengan cinta. Padahal air mata hanya sebatas rute pelarian konyol yang pintunya kebetulan terbuka, tak berbuat apa-apa terhadap luka selain menambah perih karena kandungan natriumnya. Dia kebanyakan dipilih karena 'gampangan', tak perlu modal apa-apa bahkan seringkali menetes tanpa diniatkan, mudah dihapus juga diisi ulang, tanpa residu, tak menyisakan bekas terkecuali mata sembab dan hidung memerah sisa menangis semalam...

Jadi,

sebenarnya apakah kaitan antara Cinta dan Air Mata?

Apakah Cinta semacam racun dan Air Matalah penawarnya?

Apakah Air Mata itu asap dan Cinta itu api seperti dalam pepatah?

Apakah Cinta sang nenek buyut dan Air Mata adalah cicit pertamanya?

atau mungkin Cinta itu sejenis Chiki dan Air Mata adalah flavor terbest sellernya?

Terakhir, setahuku, status mereka 'It's complicated'.

Minus lima derajat dari pacaran, tapi dua derajat ke kanan melampaui friendzone.

Mau dibilang pasangan bukan... tapi dibilang teman juga, 'Ah, masa iya temenan doang?'





***






Peringatan & Perhatian :

• Tulisan ini dapat menyebabkan baper akut, galau hingga tiba-tiba minta kepastian.
• Ketidakjelasan status dalam dosis besar dan jangka panjang dapat meningkatkan resiko patahnya hati.
• Pembaca yang hipersensitif (baca : baperan) terhadap pacar orang harap segera bertobat.
• Hati-hati! Mendadak menuntut kejelasan status dapat beresiko tinggi merusak hubungan.
• Bila setelah 5 (lima) hari galau tidak hilang, segera hubungi mantan dan minta balikan.


Salam ngaco!



Best Regards,


Kadek Radhita

Rabu, 01 Maret 2017

Tolong, Bantu Aku Berhenti

Padahal aku sudah pernah berhenti melakukannya, berusaha menguasai dan menahan diri. Menunggu sampai bekas goresan-goresan kecil di punggung tanganku hilang, menunggunya pulih dan kembali bersih.

Aku sudah pernah berhenti meninju-ninju dinding beton, berusaha tak mengakui bahwa aku merindukan saat-saat aku menikmati rasa sakitnya, berusaha terbiasa saat sensasi memar dan perih itu hilang dari buku-buku jariku, berusaha tak mengingat bagaimana leganya aku saat perih itu meresap ke rongga-rongga dada.

Aku sudah pernah berhenti melakukannya, mencari cara lain, berusaha melepaskan buih-buih kepedihan lewat tangisan yang aku sama sekali tak tahu tentang apa.

Aku sudah pernah hampir lupa, tapi tiba-tiba aku mulai lagi meninju-ninju perutku, menjambak rambutku dan menghantamkan tinju lainnya ke kepalaku. Rasa sakitnya masih di sana, mengganjal, terlalu banyak dan terlalu pahit sehingga kuanggap lebih melegakan jika berurusan dengan rasa sakit yang benar-benar nyata.

Setidaknya aku tak menggunakan benda tajam... Aku berusaha membenarkan diriku sendiri. ...atau lebih tepatnya belum ada. Batinku menambahkan.

Memar-memar di perutku terasa memuaskan, terlebih saat kepalaku berdenyut parah karena tinjuku yang keras, atau karena berbenturan dengan dinding yang lebih keras lagi. Air mataku masih tak bisa berhenti mengalir, pemikiran tentang satu hal merembet pada hal-hal lainnya. Satu tangisan akan berbuah tangisan lainnya yang lebih histeris. Aku berulangkali menyeka air mata, menyisakan mata bengkak, hidung merah dan pipi yang kaku bekas air mata mengering.


Kucubit punggung tanganku berulang kali, menyisakan banyak goresan berupa garis miring saling beradu yang nantinya akan menghitam.

Tak ada rasanya.

Kujambak rambutku sekuat tenaga.

Masih tak cukup sakit.

Kuayunkan lagi tinjuku ke kepala.

Tidak.

Aku sama sekali belum puas.

Kucakar lenganku dalam-dalam sampai menyisakan empat goresan panjang yang nyaris mengeluarkan darah.

Perih ini masih belum cukup.

Lagi.

Lagi.

Aku butuh lagi.

Tanganku meraih gunting lipat, sekejap menorehkannya ke atas paha, mengulanginya sambil menekan lebih dalam, menggores lebih keras agar melukai lebih banyak.

Sial, ini kurang tajam.

Darah menyeruak, hanya di sebagian titik dan sayangnya tak cukup banyak untuk menetes, tapi cukup untuk membuatku berhenti, menikmati saat-saat ketika perihnya bercampur dengan air mataku.

Aku melirik punggung tanganku, menemukan banyak garis-garis kecil memerah dan membengkak.

Tak akan ada yang memperhatikan juga. Aku membatin.

Oke.

Kali ini cukup.

Entah dengan lain kali.



***



Posting ini dibuat untuk ikut berpartisipasi mendukung gerakan SI Awareness Day (SIAD) 2017.

What is SIAD? Check it out on this youtube video by LifeSIGNS in here or you can visit their website on Life SIGNS

Come join me! Let's break down the mainstream stereotypes and spread the awareness about self-harm and self-injury! The most incredibly important thing is, Stop Judging!



Before you choose to hurt yourself, please give me a chance and read this first.