Senin, 27 Juli 2020

Jatuh Cinta Dalam Diam

Katakanlah aku menulis ini karena diingatkan kembali akan apa yang bisa kulakukan dengan aksara. Katakan saja bahwa aku perlu waktu dua tahun untuk kembali percaya dengan kekuatan yang dihasilkan oleh kalimat-kalimat yang begitu saja berkeliaran dalam anganku. Aku menuliskan apa yang mondar-mandir dan mengacak-acak pikiranku dalam diamnya. Apa yang melekat dan tak mau, tak bisa dipaksa hilang begitu saja.

***


Otakku berasap. Deretan kalimat berbahasa asing itu membumihanguskan akal sehatku. Kepalaku pening, terlalu banyak tekanan dan aku kehilangan nalar untuk mencernanya satu persatu. Kuketik pesan singkat itu dengan frustasi, sibuk merutuki kebodohanku yang dengan sangat sombongnya main mengiyakan saja tawaranmu. Keputusan yang terlampau bodoh, tapi apalah dayaku karena padamu— aku tak bisa berkata tidak.

Pesan terkirim. Balasanmu kuterima lebih cepat dari yang kuduga, yang secara sadar atau tidak membuatku berharap macam-macam karena merasa diprioritaskan.

"Sekarang lagi dimana? Kita ketemuan aja."

Deg!

Hanya satu pesan singkat...

dan tahu-tahu lirik lagu Love Story -nya Taylor Swift sudah berdengung di kepala, meruntuhkan tembok yang kubangun dengan susah payah, membangkitkan kembali harap yang merayap dalam gelap.

Padahal kata orang, cinta monyet tak akan bertahan sedemikian lama...

"Di mall ada foodcourt-nya kan?"

Oke.

Ternyata kamu serius!

"Aku kesana sekarang yaa."

Hah?

Mataku membesar dan refleks menganga. Kepanikan menjalar seketika. Pakaian apa yang harus kukenakan? Kaos, kemeja atau malah dress? Oh— tidak, terlalu berlebihan. Hmm, celana jeans atau rok? Bagaimana wajahku? Lebih baik dengan atau tanpa make up? Warna lipstik apa yang harus kupakai? Bagaimana dengan warna pakaianku? Apakah aku harus bergaya santai atau formal? Hmm, mungkin semiformal... haruskah aku pakai flat shoes, wedges atau sandal? Semua pertanyaan itu terlintas sekilas sekaligus dan jawabannya berserakan menunggu untuk dipunguti.

Aku mulai berkeringat karena panik, refleks kupijat pelipisku yang berdenyut semakin parah. Sedetik kemudian, kudapati diriku mendengus putus asa, bertingkah seolah tak peduli dan mengambil baju asal-asalan dari lemari.

***

Kamu berdiri di depan supermarket itu dengan ponsel dalam genggaman, lalu sesekali celingukan. Penampilanmu terlihat kharismatik seperti biasa, agak kelelahan dan sedikit lebih kurus. Jujur, aku sudah berusaha menahan keinginan untuk memandangi bola matamu berlama-lama, dan berulangkali mengingatkan diriku bahwa ini. bukan. kencan.

Kita duduk berseberangan, terpisah oleh meja bundar ala pantai dengan payung raksasa meneduhi kita, entah dari apa. Aku suka bagaimana kamu menjuluki dirimu "bli", mendengarkanmu bercerita tentang alur dan prosesmu berpikir, tentang bagaimana kamu menulis dan menyelesaikan materi yang harus kudalami ini. Harusnya kamu juga tahu bagaimana kalimatku tiba-tiba berubah serampangan, terbata-bata tanpa makna saat pandanganku berlabuh dalam bingkai kacamatamu. Tatapan matamu seolah menyelami aku, menelisik lebih dalam, menerawang jauh hingga aku buru-buru berpaling; khawatir kamu berhasil membaca seisi hatiku. Mustahil rasanya jika dengan tatapan macam itu kamu masih tak juga menyadari apa yang kurasakan.

Aku menunduk, memilih untuk menatap meja sambil mengulangi rentetan kalimatku yang tak akan mulus jika tatapanku sibuk beradu dengan bola matamu. Ya, kalimatku  memang sangat-sangat kacau... dan bukan salahmu jika kamu mulai pesimis. Toh, orang macam apa yang begitu mudah mengiyakan tawaran besar, tapi ternyata tergagap-gagap, seolah lehernya tercekik, kehilangan kata-kata, berkeringat dan panik ketika berlatih di hadapan satu orang penonton? Hanya satu orang! Dan beruntungnya kamu tak akan hadir di sana, karena tatapan menyelidik para juri tak ada apa-apanya dibanding uji nyaliku sekarang ini.

Kamu menjelaskan materi itu dengan tambahan tips-tips yang segera kucatat. Memang, ini seharusnya jadi ajang diskusi. Akupun sudah berusaha sebaik mungkin menyimak kalimatmu, sebelum di menit selanjutnya suaramu mulai memudar, terdengar agak menjauh dan aku mulai tenggelam dalam lamunan...

So many things that I wish you knew, so many walls that I can't break through...

Hey! Batinku berteriak sebelum aku benar-benar hilang dalam lamunan.

Sial.

Aku tersadar dengan sentakan kecil yang sedikit menarik perhatianmu, refleks kugigit bibir bagian dalamku sambil mengulum senyum dan menunduk, menahan malu yang membuat wajahku terasa panas. Tertangkap basah sedang memandangi seseorang tak pernah terasa sememalukan ini. Susah payah kutahan tanganku agar tak spontan menutupi wajahku yang memerah, kutelan kehisterisanku yang sudah ada di ujung lidah dan sebisa mungkin bertingkah normal. Aku mewanti-wanti diriku sendiri sebelum memberanikan diri kembali memandang ke arahmu. Kamu menatapku tepat di kedua bola mataku, seakan sudah tahu isi hatiku, lalu menyunggingkan senyum meledek.

***

I am scared to see the ending,
why are we pretending this is nothing?
I'll tell you I miss you but I don't know how,
I've never heard silence quite this loud.

(The Story of Us, Taylor Swift)


Jakarta, September 2016

Mungkinkah Sia-Sia?

Apa yang kutulis ini sepertinya lagi-lagi akan berakhir di draft, menanti-nanti plot twist baru yang kuyakini tak akan datang dalam waktu dekat. Sudah delapan tahun, dan segelintir kisah yang kutulis tentangmu rasanya semakin tak bermutu.

***

I hate to admit it
But my hands are shaking
Barely breathin'
Heart is racin'
Looks like feelings don't always change their minds

(The First Time, Kelsea Ballerini)

***

Aku yakin tanganku gemetar, napasku memendek dan jantungku ugal-ugalan berdetak semaunya. Sebaik mungkin kujabat tanganmu dengan mantap, tak boleh ada kesan lembek yang tersirat; tak peduli betapa jumpalitannya jantungku di dalam sana.

Huh.

Kamu melenggang pergi, dan harapanku rontok beterbangan. Agaknya kali ini tak akan ada kisah yang bisa kuceritakan. Tak ada. Sebelum batinku mencelus melihat kamu lagi-lagi berdampingan dengan wanita itu, beriringan kesana-kemari, bercakap-cakap lalu tertawa. Kamu tak tahu, kan, betapa panasnya hatiku melihat tatapan memuja yang terpancar darimu untuknya? Kamu sepertinya sangat tergila-gila padanya, memikirkannya setiap detik, setiap saat, hingga isi kepalamu tak jauh-jauh dari memori tentangnya, hingga namanya selalu terngiang di telingamu... hingga kamu berulang kali memanggil aku dengan namanya.

Ya, Tuhan... kurang dalamkah luka yang kamu torehkan tanpa sengaja? Tidak cukupkah aku mengelus dada setiap melihatmu dengannya? Kukubur rasa maluku untuk diriku sendiri, kupendam perih yang merebak setiap kamu mengulanginya lagi dan lagi. Jika mengingat pertemuan kita tempo hari, bohong rasanya jika kamu masih tak menyadarinya. Aku percaya bahwa kamu tahu. Kamu sengaja menghantam aku mundur, memasang papan peringatan besar-besar dan berusaha mengusirku secara halus. Aku mendecak frustasi, entah untuk kali keberapa. Sewindu sia-sia untuk kisah yang ujungnya itu-itu saja...

Dari aku,
Yang mulai lelah mengagumimu
dalam diam

Kamis, 23 Juli 2020

Mia in La La Land



Bagaimana seseorang bisa melanjutkan hidup dengan perasaan semacam itu?
Bagaimana dia bisa hidup dengan buih-buih penyesalan yang harus terus menerus ditenggaknya?
Aku tak bisa membayangkan rasanya menjadi dia.
Aku tak akan pernah mau menjadi dia.
Mengapa harus ada cinta, jika kita tak bisa memiliki yang kita cintai?
Mengapa harus ada cerita yang pernah terjadi, jika pada akhirnya kita hidup sendiri-sendiri?

***

Aku tercekat. Tenggorokanku mendadak pahit. Satu hal yang pernah, masih, selalu dan akan terus aku khawatirkan. Aku tak ingin menjadi Mia di La La Land, aku tak mau tersesat, memilih yang salah, lalu kehilangan segalanya. Aku tak mau menyesal seumur hidup karena melewatkan seseorang yang kucintai hingga akhir hayat.

Kisah ini menusuk aku tepat di jantung. Aku bisa merasakan sebuah anak panah mencabik-cabik hatiku saat mereka berusaha saling melempar senyum. Pahit. Kegetiran melingkupi udara. Rasa sesal mengganjal di tenggorokan. Binar air mata yang tertahan di sudut mata seolah mengisyaratkan betapa mereka masih saling mencintai, terpaksa saling mengikhlaskan karena waktu dan kesempatan tak datang dua kali; takkan terulang lagi.

Aku tak bisa membayangkan hidup dengan penyesalan yang terus menggerogoti, mempertanyakan apa yang akan terjadi 'jika' kita tak saling melewatkan, mempersoalkan dan menyalahkan setiap hal yang kupilih dan kulakukan. Aku tak bisa hidup dengan kenangan sebagai sumber tangis. Aku tak ingin menghabiskan sisa hidupku menangis menyesali sesuatu yang tidak, tapi seharusnya aku lakukan.

Mia di La La Land adalah salah satu kisah klasik yang mampu merobek setiap hati yang ragu. Seakan mencemooh dan mencibir mereka yang menyangkal kesedihan dari cinta yang terlewatkan, seketika menarik ingatanku pada sebait puisi yang pernah kubaca dan dengan seenaknya terngiang begitu saja di kepalaku...

***


One day, whether you
are 14,
28
or 65
you will stumble upon
someone who will start
a fire in you that cannot die.
However, the saddest,
most awful truth
you will ever come to find-
is they are not always
with whom we spend our lives.

(Beau Christopher Taplin, The Awful Truth)