Senin, 23 Desember 2013

Aku. Tanpamu.

Entahlah... apakah ini cuma aku, atau memang pagi ini terasa begitu sunyi?

Saat aku mulai menulis tulisan ini, aku baru saja selesai mengotak-atik rubik 5x5 yang membuat otakku semakin melilit. Yaaa yaaaa yaaa, kedengarannya membosankan, bukan? Memang. Sedari tadi aku terus-terusan berusaha membunuh waktu. Aku hanya mengambil benda apapun untuk berpura-pura sibuk, mencoba mengulur waktu dan membuat lupa, tapi nyatanya... tak bisa juga.

Sudut mataku kembali mencuri pandang kearah gadget-ku yang tergeletak mati, mengenaskan. Aku lagi-lagi menghampirinya, (untuk entah kesekian kalinya) berusaha memencet berbagai tombol sambil sesekali berharap layarnya akan menampilkan lebih dari sekadar bulatan-bulatan pattern yang tak kunjung merespon saat di sentuh. Ah! Aku mendecak kesal.

Kulempar tab-ku asal-asalan diatas kasur sambil kembali merenungi nasibku yang entah mengapa selalu terasa menyebalkan. Uh! Harusnya hari ini kuhabiskan dengan tawa... harusnya saat ini kami masih saling bercengkrama... harusnya sekarang, aku dan dia sedang asyik-asyiknya bertukar cerita... Harusnya. Tapi sayangnya... tidak.

Terkadang, jarak suka membuatku gemas sendiri. Entah karena ulah si Tuan Sinyal, lambannya aplikasi BBM, atau malah sulitnya lalu lalang gelombang elektromagnetik itu di udara, kami (terpaksa) terpisah. Lagi. Meskipun faktanya kami memang sudah benar-benar terpisah, oleh jarak.

Menyedihkan, yah? Iya, tapi kali ini salahku. Entah mengapa, belakangan ini gadget-ku terlalu doyan ngambek dan mati sendiri, seperti mati suri. Aku tahu ini sangat tak masuk akal, tapi tak mengabarinya seharian, aku jelas merasa seperti seorang buronan. Seperti pelarian.

Mataku menerawang sambil memandang keluar jendela, membiarkan pikiranku berimajinasi dengan bayang-bayangmu yang masih saja lekat dikepala. Huh. Entah berapa lama lagi aku bisa berpura-pura lupa... satu jam... dua jam... tiga jam... hingga lima jam.... Aku semakin getir. Air mulai menggemang dengan sendirinya dipelupuk mataku, jatuh membasahi pipiku dan berakhir diujung dagu. Matahari, ah aku rasa kamu bahkan belum tahu arti namamu, yah? Iya, kamu matahari. Tapi andai menemuimu itu semudah aku menemui matahari yang ada dikerajaan langit, aku rasa, aku tak perlu menangis di siang bolong begini....

Ah, bodoh! Barusan aku bilang siang, yah? Sudah hampir pukul dua sekarang. Aku bahkan lupa makan. Yah... kalau kamu ada disini sekarang, pasti pipiku sudah jadi bulan-bulanan. Entah bakal semerah apa oleh cubitan gemas yang membuatku semakin merona malu.

Sayang, sudah delapan jam kita tak saling bertukar kabar. Apakah kamu masih tetap mencariku? Atau malah diam-diam mencari kabar wanita lain diluar sana? Aaaaaahhh matahari, tak bisakah kita saling telepati? Agar aku tak perlu kepayahan memendam kangen sendiri... atau mungkin kamu bahkan sudah tak lagi peduli, tak mau tahu aku masih hidup atau sudah mati?

Dari kekasihmu yang terlalu suka melebih-lebihkan,
Maaf...

Sabtu, 14 September 2013

Benarkah Cinta Tak Harus Memiliki?



Anggap saja ini curhatan. Letupan dari sebagian jeritan hatiku yang masih terbungkam. Sekeping kisah yang masih saja terselip di masa lalu, yang tak ingin kubawa secuilpun ke masa depan. Ini tentang cinta. Yah, memangnya apalagi yang bisa membuatmu menunggu walau begitu terluka? Ini tentang kesetiaan semu. Tentang cinta yang hanya bisa kusampaikan lewat binar-binar ketulusan dimataku. Tentang sosok yang hanya mampu kuraih lewat lengan doa, selain dalam buai-buai mimpi yang tak kunjung menjadi nyata.


Khayalku begitu terlatih merangkai namamu. Membiaskan pahatan demi pahatan wajah berkharisma yang dalam sekedip mata sudah begitu sukses merajai anganku. Sosok dengan senyuman manis, tubuh tegap dan nada bicara yang selalu terngiang-ngiang didalam hati. Aku menjulukinya sang pencuri. Sang perampas hati yang melucuti logika korbannya dengan kalimat manis yang menebarkan harap; yang berbuah tangis. 


Salahkah aku? Bukan aku yang meminta desir aneh saat kita saling bertatap. Semuanya terjadi tanpa kureka-reka, semuanya berakhir tanpa kusangka-sangka. Aku cuma suka mengagumimu. Menemani hari-harimu… dulu. Menatap diam-diam sosokmu dari suatu kejauhan bernama jarak. Sekarang. Dari tempatku berdiri, dari tempatmu bercengkrama manis dengan kekasih barumu. 


Aku tak lagi begitu bisa menggapaimu. Seperti dulu kita saling bercerita, seperti beberapa bulan lalu kita saling mencinta. Ah, mungkin itu hanya sebagian dari imajinasi khayalku. Aku yang terlalu menjunjung tinggi ketulusan cinta. Tanpa pernah meminta, apalagi terucap. 


Semua hanya tertuang dalam syair. Dalam beribu untaian puisi yang selalu saja kutujukan padamu. Masih untukmu. Entah berapa banyak paragraf dan suku kata yang melukiskan rasa ini. Rasa yang menyembul perlahan dari keterbiasaan. Dari begitu banyak detik yang kita bagi bersama, dalam senyuman yang dulu kuanggap bukan apa-apa. Boro-boro cinta. 


Kita memang tak pernah benar-benar menjadi kita. Aku dan kamu hanya saling bertemu, bertatap dan berbagi cerita; bukan rasa cinta. Aku sama sekali tak bisa menyampaikannya, terlebih ketika dawai gitar itu mulai kamu petik, melantunkan melodi Lagu Rindu yang menyeruak sampai ke telingaku. Bahkan menyentuh tepat dihatinya.


"Lagu rindu ini kuciptakan
Hanya untuk bidadari hatiku tercinta
Walau hanya nada sederhana
Ijinkan kuungkap segenap rasa dan kerinduan..." 



Kamu mengakhiri bait itu dengan senyuman dan tatapan lembut yang jatuh dikedua bola mataku. Aku spontan terkejut, mulai salah tingkah saat akhirnya kamu malah berkata,

"Ikut nyanyi dong! Masa aku sendirian...."

Ah! Aku berdecak, tapi mau tidak mau, aku mengangguk. 

Dan haripun berlanjut seperti biasa. Kamu menjemputku dirumah, aku menemanimu berlatih gitar, makan di warung padang kesukaanmu dan menunggumu di kelas musik. Semua terjadi begitu saja. Dengan keterbiasaan, tanpa paksaan dan ternyata… tanpa tujuan. 


Suatu hari di minggu ketiga bulan Agustus. Aku menunggumu selama berjam-jam. Cardigan tebal yang tadinya kukenakan bahkan sudah kulempar sembarangan di atas sofa, dahiku berkerut. Tiga jam sudah aku menunggu bel pintu berbunyi, tapi bahkan suara motormupun belum terdengar. Kurogoh handphoneku dan kembali kuhubungi nomor yang sudah kuhapal di luar kepala itu. Mail box. Handphonemu masih dalam keadaan mati, seperti beberapa saat lalu. 



Dan tiba-tiba semuanya sirna. Kamu menghilang dan rutinitasku tak lagi sama. Tak ada lagi bunyi klakson motormu yang tak sabar menungguiku di depan gerbang. Tak ada lagi duet-duet indah yang selalu saja kutunggu-tunggu. Tak ada lagi kamu. Apalagi kita. 



Sekarang, belum genap sebulan setelah semuanya terjadi. Kamu bahkan seakan tak pernah mengenalku, kamu berlalu disisiku dengan wanita baru dalam genggamanmu, tersenyum manis kepadanya layaknya tak pernah ada aku. Pada akhirnya, kisah kita hanyalah dongeng. Cerita yang bahkan masih aku ragukan realitanya. Kita berakhir. Satu kosong. Hatiku terampas sementara hatimu masih padanya. Pada wanita barumu. Yah, sudahlah… bukannya cinta memang tak harus memiliki? 



Ah, jangan percaya bualanku. Itu hanya sebaris kalimat yang sering kupakai untuk menghibur diri. Karena sebenarnya, cinta itu tumbuh dari rasa memiliki, dari kebersamaan yang menciptakan kenyamanan dan kebahagiaan. Sekarang, bagaimana aku bisa mencintaimu? Jika melihat batang hidungmu saja aku terluka, jika bahkan sekadar mengenang kita saja aku tak bisa. Yah, andai kamu tahu, aku mulai lelah mencintai dia yang dimiliki oleh orang lain. Apalagi... tetap berpura-pura tidak tersakiti karenanya.





with love,

Dedicated for, Anonim.

Selamat berusaha melupakan yah!

Kamu pantas mendapatkan yang lebih baik daripada dia ;)

Kamis, 08 Agustus 2013

Maaf dan Terimakasih

Sebelumnya, kuucapkan Happy Ied Mubarak 1434H untuk kalian semua :) untuk semua sosok yang pernah mengisi keseharianku dalam satu tahun belakangan ini. Entah dengan sengaja, ataupun terpaksa. Untuk Prince Jutek-ku, untuk Sinar Alfa-ku, untuk Sang Makhluk Asteroid, untuk sahabat-sahabat terbaikku Syaa dan untuk semua orang yang dengan sekiranya sudi menganggapku teman.

Aku terkesan. Betapa jangka waktu setahun itu terasa begitu singkat untuk sekadar kucicipi kebahagiaannya, kunikmati lukanya, dan kuresapi setiap jengkal rasa sakitnya. Aku terkesima. Betapa jangka waktu dua belas bulan itu kuhabiskan dengan tertawa dan menangis, dengan ribuan senyuman yang tak terpungkiri didalangi oleh kesederhanaan kalian. Oleh sebaris lelucon aneh yang dulunya berhasil mengubah mood-ku seharian. Entah dengan mantra sihir semanjur apa.

Untuk Prince Jutek-ku...

Hai! Kamu sudah begitu berubah sekarang. Kamu bukan lagi pria pendiam yang (dulu) berhasil membuat hari-hariku berpelangi dengan kemanisannya. Kamu semakin keren. Kamu semakin bertransformasi menjadi menjadi pria lain yang sudah tak lagi kukenali gelagatnya. Pria yang asing.

Aku minta maaf, Prince. Aku selalu berpura-pura tak terjadi apa-apa diantara kita. Aku ketakutan. Permintaan maafmu yang akhirnya kembali membuka semua kisah lama, membuatku percaya bahwa perasaan itu bukan cuma aku yang rasa. Dulu, pernah ada kita. Pernah ada dua insan yang berbagi cerita bersama, dengan perasaan 'lain' yang terus saja dipendam sedalam-dalamnya.

Untuk Sinar Alfa-ku...

Selamat berbahagia! Kamu telah menemukan wanita yang terpilih sebagai masa depanmu. Maaf ya, aku pernah membuatmu sekejap berpaling darinya. Tapi sungguh, jika aku menyadari semuanya sedari awal, aku tak akan tega bahkan hanya untuk sekadar duduk bercengkrama bersamamu. Aku tak akan kuat melihat hati perempuan yang kamu sayangi itu menjadi tercabik-cabik setengah berceceran; seperti yang pernah kurasakan dulu :)

Untuk Sang Makhluk Asteroid...

Aku tidak akan menanyakan kabarmu :p hehe untuk apa? Kamu bahkan masih selalu kulihat, meskipun semua sudah tak lagi sama sekarang. Aku kehilangan lelucon konyolmu, gaya bahasa tua dan kata-kata sok bijakmu, serta janji terakhirmu yang bahkan belum sempat terealisasikan... Yah, aku memang sempat berpikir bahwa semuanya akan berakhir berbeda.  Aku pikir, kita bukan terjebak waktu dan suasana, tapi ternyata... semua memang semu, yah? Segalanya hilang dan aku harus terus berpura-pura tak terjadi apa-apa. Ah, sudahlah :) aku cuma ingin minta maaf atas terganggunya hari-harimu dulu. Maaf atas kehadiranku yang selalu mengacaukan rotasi duniamu yang sudah sempurna. Aku memang sempat kesulitan bersandiwara, tapi setidaknya, ini membantuku menghadapi realita :)

Untuk Sya...

Holaa!!!!!! Langsung rame deh-_- hehehe. Aku tahu, mungkin tulisan ini tak akan terbaca oleh kamu-kamu yang suka unyu-unyu dan aneh sendiri itu. Mungkin bahkan, tulisan ini tidak akan dibaca oleh siapapun :| duh sedihnya.... hehe :| Sya, entah sudah berapa ratus hari kita saling mengenal, bercanda gurau dan asyik meributkan hal-hal sepele yang tak jelas juntrungannya itu... Selama lebih dari dua tahun ini, kita pernah lebih dari sekadar sahabat. Kita pernah jadi saudara, musuh yang saling meledek, bahkan kritikus yang dengan seenaknya berkomentar satu sama lain.

Aku tak begitu peduli kalian menganggapku apa. Teman yang bawel dan menyebalkan, Si Pesek yang sok bijak dan kadang tiba-tiba abnormal, atau entah apapun hal-hal buruk lainnya. Sebelumnya, maaf kalau aku tak bisa selamanya menjadi sahabat yang baik untuk kalian. Aku terlalu kepala batu. Ada kalanya aku mendadak berubah marah, atau malah membuat kalian benci melihat tingkahku yang seenaknya sendiri. Tolong maafkan, Sya. Aku masih kurang pandai menempatkan diri.

Untuk kalian semua yang pernah merasa mengenalku, maaf. Aku pasti berhutang begitu banyak maaf atas semua kecerobohanku selama ini. Entah karena perkataan yang sering menyayat hati... atau malah karena tingkahku yang membuat kalian benci setengah mati. Maaf. Aku tak pernah berkeinginan untuk dibenci oleh siapapun.

Kalian, selain kata maaf yang (aku tahu) tak akan bisa menebus begitu banyak kesalahanku pada kalian, aku juga ingin menyampaikan rasa terimakasihku pada seisi dunia.

Teruntuk Prince Jutek-ku yang sempat kujuluki ayam :p terimakasih telah mengajariku cara insom yang baik, terimakasih telah mengenalkan aku pada Los Blancos yang akhirnya aku cintai seutuhnya. Yah, setidaknya 'kita' memang pernah ada... ;)

Teruntuk Sinar Alfa-ku yang tak bisa hidup tanpa musik... terimakasih telah membuatku tergila-gila pada rubik :) Aku titip salam untuk wanitamu yang calon guru itu, semoga kalian selalu bahagia dan saling mencinta :)


Teruntuk Makhluk Asteroid yang (katanya) tinggal diantara planet Mars dan Jupiter... terimakasih atas petuah bijakmu soal dunia menulis yang kugilai sekarang :) Tetaplah menjadi pria manis yang tak pernah letih menatapi layar laptop hanya untuk mendalami dunia yang kamu cintai; dunia teknologi :)

Teruntuk Sya yang adalah segala-galanya... Terimakasih sudah berusaha menerima aku dalam kehidupan kalian :) Aku tahu kalian pasti begitu susah payah untuk berusaha memahami  jalan pikiran manusia aneh seperti aku ini, tapi diluar semua kekurangan dan kelebihan kita, aku tahu, kita tetap sahabat yang saling mempedulikan ;)

Untuk kalian semua, manusia yang ada diluar sana. Terimakasih karena telah menyemarakkan seisi duniaku selama setahun belakangan ini. Memang, tak ada yang sempurna di dunia ini. Maka oleh karenanya, maaf dan terimakasih dibutuhkan :)

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1934H,
selamat memaafkan! :)


Rabu, 07 Agustus 2013

Dua Bulan Setelah Penghianatanmu

Selamat bertemu lagi, Sinar Alfa :) Waktu berlalu begitu cepat yah? Sudah dua bulan aku menjalani semuanya tanpa sedikitpun rasa kepedulianmu. Ya.... entahlah. Entah kamu masih mengingat wanita bodoh sepertiku atau tidak. Setidaknya, aku masih sanggup untuk berpura-pura tak peduli.
Apa kabar? Kalau aku, aku masih baik-baik saja. Semuanya tak ada yang berubah, hari-hariku masih sama. Sekolah, mengerjakan tugas, ulangan, tertawa dan menangis. Semua masih sama. Namamu bahkan masih sangat sering kudengar disetiap sendi-sendi kehidupanku. Mereka masih saja seringkali menyangkutpautkan aku dan kamu. Mereka masih gemar mencandakan namamu di hadapanku, mengingatkan aku padamu.
Yah bukan sepenuhnya salah mereka, bukannya setahu mereka kita masih bersama? Iya, kebahagiaan kita memang sempat terasa nyata. Dulu. Aku sempat sepenuhnya mempercayai kamu. Mempercayai kita. Dulu. Tapi jika semua memang benar-benar pernah nyata, mengapa ini berakhir layaknya memberhentikan sebuah permainan, Tuan? Berhenti dan selesai. Semudah inikah?
Padahal seingatku kemarin masih sempurna. Aku masih tersenyum bersama kamu disisiku, aku masih tertawa mendengar celotehan manismu tentang hidup. Tentang aku yang terlalu ketakutan saat kamu tunjukkan keadaan calon taruna STPI, tentang kamu yang selalu mencubit gemas hidungku sambil menyerukan 'pesek pesek pesek' ke seluruh dunia. Tentang kita yang tak pernah habis bercerita satu sama lain. Tentang lagu yang kita bagi bersama. Tentang berjam-jam yang pernah kita habiskan dengan canggung dan manis. Semudah inikah terlupakan? Ah aku salut! Aku bahkan tak kuat untuk menahan tangis saat menulis ini. Mengenangmu, menjadi candu.
Ingatkah kamu tentang berjam-jam yang kita habiskan dibawah langit malam itu? Apakah kamu ingat dengan percakapan sederhana kita? Pengalaman hidup yang membuatmu trauma, lembar jawaban ujian sekolahmu yang nyaris robek, listening section-mu yang berantakan, bandmu yang luar biasa menakjubkan, rekaman permainan gitarmu, kecintaanmu pada rubik dan meme comic. Semuanya, aku masih ingat semuanya.
Apa kamu masih ingat dengan beberapa janjimu yang belum sempat terwujud? Apakah kamu masih ingat dengan kata-kata yang pernah aku harapkan akan meluncur dari bibirmu? Tidak? Ah sayang sekali, aku masih ingat.
Kamu tahu? Aku sengaja tidak menonton kelanjutan film 'kita'. Aku hanya mau menontonnya denganmu, disampingmu. Aku sengaja menulis banyak kisah hidupku, untuk terbaca kamu, untuk terbaca kita. Tapi apa? Semua cuma sekadar janji. Cuma sebaris kata-kata yang sudah tak mungkin lagi akan terwujudkan.
Maaf jika tulisanku tak berkenan untuk terbaca kamu, Sinar Alfa. Diksiku mulai berantakan sejak dua bulan lalu. Sejak hatiku mulai retak, hancur berceceran dan sulit kubenahi. Maaf, ini cuma beberapa paragraf usang yang kutulis dengan kenangan yang sudah sangat kadaluarsa. Lagi-lagi, aku masih mengingat kamu.
Terimakasih, Tuan :) Terimakasih atas senyuman yang pernah kamu bagi bersamaku. Terimakasih atas semua kehangatan yang pernah aku rasakan dalam dekapanmu. Aku (tentu saja) akan merindukanmu kelak. Nanti, suatu ketika. Nanti, saat kita sudah sama-sama menggenggam dunia.
Selamat tinggal, Tuan :) semoga saja (setidaknya) kamu pernah mengingatku sesekali.

Tertanda,
dari seseorang yang pernah kamu panggil sayang.
dari seseorang yang pernah menganggapmu dunianya.
Aku :)




Minggu, 21 Juli 2013

Kita dan Kenangan :')

Pertama kali aku melihatnya, tak sekalipun aku mengira bahwa lelaki itu akan menjadi bagian penting dari hidupku.
Dia hanyalah seorang lelaki biasa yang datang dengan senyuman, meski tanpa kusadari betapa senyumannya itu akan meluluhlantakkan duniaku.
Dia hanyalah seorang lelaki biasa yang menyapaku dengan candaannya.
Tak ada yang istimewa darinya. Hanya saja jika tanpa dia... duniaku tak ada artinya!

***

Halo kamu :) Maafkan diksi puisiku yang kurang sempurna, akhirnya kita bertemu lagi. Bagaimanakah kabarmu? Apakah kamu ingat tanggal berapa sekarang, Prince Jutekku? Ah, kamu pasti lupa. Setahun lalu, 21 juli 2012. Awal yang sederhana, hanya sebatas teman yang kukagumi sifatnya. Misterius. Justru itulah kelebihan sosokmu. Dengan senyuman manis dan berbagai kekonyolanmu, semua berubah. Menyusun setiap fragmen kenangan indah yang terkadang kunikmati sendiri. Entah denganmu.

Bolehkah kuceritakan awal kisah ini? Gurauan sederhana yang tak terpungkiri membuatku tersenyum. Rangkaian kata-kata manis yang kita lontarkan bergantian tak jarang membuatku tersipu. Tersenyum bahagia. Ah, entahlah... Dulu kita sangat nyaman dengan ketidakjelasan ini. Dengan tanpa janji dan ikatan, kita tertawa bersama. Saling bertukar lelucon dan cerita aneh yang membuatku semakin mengenalmu, pangeranku.

Sosok cuek itu mulai bertransformasi menjadi pria manis yang penuh perhatian. Jelas saja aku tersanjung, diperlakukan bagai putri dan dipanggil bidadari. Betapa bahagianya saat-saat itu, ya, meski tanpa status.

Dulu, saat masih ada kamu, aku seringkali menatap layar handphoneku dengan senyum kecil. Membaca berbagai panggilan menggemaskan yang kamu tujukan untukku. Dulu. Disaat semua terasa manis.

Detik bergulir dan waktu berganti, sudah hampir setengah tahun berlalu semenjak kisah ini dimulai. Percakapan manis kita mulai tergerus rasa bosan, dan pangeranku yang dulu mengagumkan entah menguap hilang kemana.

Terang saja, aku takut kehilangan. Setiap kali dia ucapkan kata tenang, hatiku bergejolak. Aku tak ingin figur mempesona ini pergi, apalagi ketika hatiku memintanya bertahan. Tapi nyatanya, setiap detik yang berlalu membuat kita terpisah semakin jauh. Aku mulai tak lagi mengenalmu; kamu yang sekarang, kamu yang mulai berubah jadi kenangan.

21 juli 2012. Mungkin hanya sekadar angka tak bermakna bagimu. Ya biarlah, aku tak mungkin marah. Tak ada kata sesal, bukan? Untuk apa menyesali sesuatu yang membuatku bahagia? Menyesali kamu?

Sosok cuek yang memperhatikan setiap detail. Penggemar futsal dan pecinta Los Blancos sejati. Penyuka warna putih yang tak bisa hidup tanpa bola. Jutek. Dingin. Dan manis.
Maaf, jika sedikit saja kau luangkan waktu untuk membaca tulisan ini. Aku yakin kamu akan bosan, merasa gerah dengan aku yang gemar memutar kenangan. Tapi sudahlah... Kenangan manis kadang tak selamanya diingat, bukan?
Terimakasih kamu ;) pangeran jutek yang menyebalkan, penderita insomnia yang tak bisa berhenti mengataiku bawel.

Selamat tanggal 21 juli, Kamu. Masih ingin membuat cerita tentang kita? :p

Minggu, 30 Juni 2013

Delapan Bulan; Sebelas Hari

Bum! Semuanya hancur. Air mataku bahkan belum benar-benar mengering dari sisa tangisku semalam. Mataku sembab, pipiku basah dan hidungku berair. Aku menulis ini saat aku tak tahu lagi harus kukemanakan rasa sakitku. Aku menulisnya ketika hatiku mulai berkeping-keping dan terlalu sulit untuk kubenahi. Butiran bening itu sukses mengalir dipipiku, menetes keatas kertas tempat aku menuangkan semua luka dan pedih yang melandaku akhir-akhir ini. Semenjak seminggu lalu, semuanya berakhir. Dalam arti yang sebenarnya.

Kamu. Iya, kamu begitu mudah mengakhirinya.Mengucapkan kata pisah ketika aku masih cinta-cintanya. Memilih pergi saat bahkan aku terang-terangan meminta kamu kembali. Dimana hatimu, Sayang? Kamu kemanakan perasaan yang katanya cinta itu? Dulu, kamulah segalanya. Dulu, akulah segalamu.... Tapi apa? Kenapa kamu tetap memilih pergi?

5 Oktober 2012. Traktiran seorang sahabat mengubah hidupku seutuhnya. Masih kau ingatkah? Saat itu, kamu cuma sosok asing yang menerobos masuk dalam hidupku dengan sekenanya. Terjebak diwaktu dan tempat yang sama, berbarengan memasuki rumah hantu itu dan keluar dengan perasaan yang mulai tumbuh tanpa kuharapkan. Aku mulai menyukaimu.

Seminggu kemudian, tak butuh waktu yang terlalu lama, dua orang asing itu mulai menjalin hubungan manis dalam sebuah status. 12 Oktober 2012. Status yang membuatku berhak memanggilmu sayang, status yang menjadikanku berhak menjulukimu milikku.


Hatiku berdesir. Senyum acapkali singgah ketika melihat pesan-pesan singkatmu memenuhi inbox handphone-ku setiap menit, setiap hari, setiap minggu, selama berbulan-bulan. Percakapan sederhana itu lantas menjadi sarapan dan makan siangku, menemani aku menghirup napas dan memupuskan semua kesedihanku. Aku bahagia meskipun kamu memang tak benar-benar hadir disisiku. Aku bahagia karena entah mengapa... semuanya terlihat berwarna.

Tapi lagi-lagi, bum! Mengapa semua kebahagiaan selalu begitu cepat berakhir? Aku bahkan masih merindukan kamu, aku masih merindukan saat-saat ketika senyummu adalah satu-satunya hal yang perlu kulihat untuk berhenti menangis. Mengapa kamu begitu ingin mengakhirinya? Padahal aku masih ingin merasakan kebersamaan ini sedikit lebih lama lagi. Padahal aku masih kepayahan menahan gejolak rindu yang terus-menerus membuncah; minta diungkapkan.

Ah, aku semakin bosan menangisimu, Sayang. Seminggu memang bukan waktu yang cukup untuk menghilangkan rasa, bukan juga rentang yang panjang untuk melenyapkan luka. Aku begitu tersakiti. Aku terlalu berharap banyak dari kita. Aku terlalu suka berimajinasi dan membayangkan kisah kita punya akhir yang begitu membahagiakan, atau paling tidak tak semengecewakan ini.


Aku menangis untuk kesekian kalinya, untuk entah tetes air mata keberapa yang aku habiskan karena kamu; karena kita yang pernah ada. Sungguh, jika kamu masih sedikit saja sudi mendengar celotehan anehku, akan kuceritakan tentang betapa sulitnya mengikhlaskan. Dari ada, menjadi tidak ada. Dari milikmu, menjadi bukan milikmu. Bahkan milik orang lain.

Yah... mungkin kita memang sudah lepas dari status, tapi harus kuapakan kenangan?



with love,

Dedicated for Fasya :)





Rabu, 26 Juni 2013

Sekotak Kardus dalam Kenangan

Tulisan ini untuk ikut kompetisi @_PlotPoint: buku Catatan si Anak Magang Film "Cinta Dalam Kardus" yang tayang di bioskop mulai 13 Juni 2013.












Namanya memang masih selalu kumisteriuskan, julukannya Sinar Alfaku mantan gebetanku yang sangat mahir memetik gitar. Penggemar bulutangkis dan penyuka rubik yang tak bisa hidup tanpa musik. Iya, mantan memang sosok yang paling jago bikin kenangan. Tapi dari semua pemberiannya, memang 'tinta cina' lah yang termanis. Kenapa? Tentu saja karena kenangannya.

25 februari 2013. Malam beranjak gelap. Jam dihandphoneku mulai menunjukkan pukul delapan lewat empat menit saat aku masih kebingungan mencari peralatan untuk tugas seni rupaku besok.

From : Sinar Alfa


    Udah ketemu belom de? Biasanya di fotokopian ada kok.


Aku melengos. Fotokopian mana lagi? Aku sudah mencarinya kemana-mana dan tetap saja hasilnya nihil. Nol besar.


To : Sinar Alfa

    gak ketemu kak, di gramed juga gak ada. Ini baru mau nyari lagi


Aku menekan tombol kirim. Sepersekian detik kemudian, handphoneku bergetar.


From : Sinar Alfa

    Eh hati-hati ya keluar malem :) atau mau kakak beliin aja?


Dahiku mengeryit. Aku tersenyum tipis mendapati perhatian kecil yang terselip dalam pesan singkatnya itu.

To : Sinar Alfa
    gausah lah kak, ngerepotin banget. Ini juga udah mau keluar kok

Pesan terkirim. Handphoneku bergetar lagi.

From : Sinar Alfa
    Udah gausah keluar de, biar kakak yg cari daripada kamu harus keluar malem :)

Aku tercekat setengah tak percaya. Nyaris terbuai oleh sebaris kata-kata sederhana yang entah mengapa terasa begitu manis.
Keesokan paginya, dia menemuiku dengan malu-malu di sudut koridor sekolah yang takkan pernah aku lupakan kenangannya. Selasa, 26 Februari 2013. Bel pergantian jam pelajaran kedua sekitar pukul delapan lewat sepuluh pagi.

From : Sinar Alfa

    Tunggu di meja piket lantai dua aja yah ;)


Aku membaca pesan singkatnya dengan perlahan, buru-buru aku bergegas menuruni tangga dari kelasku yang berada dilantai tiga. Begitu sampai ditempat yang dimaksud, sosok itu sudah terlebih dahulu ada disana.
          "Nih, dipake yah." Dia menyerahkan sebotol kecil tinta dengan senyuman manis yang menawan.
          "Makasih yah kak, maaf nyusahin terus!" Aku sedikit berteriak pada sosoknya yang sudah terlebih dahulu berlalu dengan wajah bersemu kemerahan yang menggemaskan.
Pagi itu, tugas seni rupaku selesai dengan sempurna. Dengan bantuan mantan gebetanku yang sama sekali tak pernah puas meledekku pesek. Sudahkah kamu memperhatikan ini, Sinar Alfaku?





Optical art. Tipuan mata. Tugas seni rupaku yang 'dulu' kamu bantu selesaikan. Iya, dulu– di saat semua terasa begitu indah. Bersamamu. Kini... semua terlihat begitu manis dalam balutan kenangan. Dalam keabadian setiap detail memori masa lalu kita, di dalam sekotak kardus :)

Sabtu, 08 Juni 2013

Di Malam Minggu…

Rissa tersenyum tipis saat memandangi semaraknya orang-orang yang berlalu lalang disekitarnya. Ini malam minggu yah? Hatinya bergumam dengan pedih. Dia kembali menatap langit malam tanpa bintang yang biasanya dia nikmati bersama sosok itu. Sosok pria manis yang pernah singgah dalam hidupnya. Kamu dimana? Padahal aku berharap kamu menemaniku malam ini. Tulisnya diatas lembaran kertas yang selalu menjadi temannya dalam pedih– buku puisi ciptaanya. Dulu, ini tempat terindah kita. Tempat kita memandangi bintang dengan gelak tawa dan senyuman manis. Kenang Rissa lagi.

Kenapa kamu pergi? Kenapa kamu lebih memilih hilang saat aku mulai menyadari betapa berharganya kebersamaan kita? Ah, semuanya terlambat. Aku baru menyadari betapa busuknya kamu ketika aku mulai percaya bahwa kamulah yang terbaik. Aku baru mulai mengerti betapa manisnya perasaan ini ketika kamu pergi tanpa pamit, kembali dengan sekenanya dan berpura-pura seakan semuanya masih baik-baik saja. Apanya yang baik? Apa kamu tak sadar kalau hatiku berantakan? Kamu tidak tahu betapa tersakitinya aku! Melihat kamu berpaling dengan perempuan mengagumkan yang ada disisimu sekarang... Aku terluka. Apakah aku terlambat menyayangimu? Atau… kamu yang terlalu cepat menyingkirkan aku? Rissa mulai menitikkan air mata.

Dari dulu kamu benar-benar menganggapku mainan, kan? Bodoh. Aku tahu aku bodoh. Aku tertipu oleh penampilan sederhana nan lugu itu. Aku dibuat buta oleh manisnya kata-kata yang kamu tebar dengan tanpa perasaan, dengan datar. Rissa mulai terisak. Tak berartikah semua kedekatan kita selama ini? Apakah aku terlalu konyol untuk mengharapkan sedikit saja ketulusan dari semua kenangan manis kita?

Rissa mengambil tissue dan menyeka air matanya yang tumpah dengan sendirinya. Aku kesakitan, sayang. Hatiku sakit. Dia membatin sambil memandangi kursi kosong di hadapannya. Kursi yang biasanya ditempati oleh pria manis berperangai buruk yang sudah meremuk-remukkan hatinya. Kamu terlepas saat bahkan belum benar-benar tergenggam. Kamu pergi saat kita bahkan belum benar-benar merasa dekat.

Rissa kembali memandang langit menghitam di hadapannya. Bintang-bintang pergi seiring menghilangnya kamu dari peradaban hidupku. Senyumku meredup bersamaan dengan hujan yang menetes dari pelupuk mataku. Aku terluka, sementara kamu sibuk tertawa. Aku menangis, sedangkan kamu sibuk mengumbar kata-kata manis. Di mana perasaanmu, Sayang? Berbahagialah dan tertawakan saja serpihan hatiku!

Rissa menangis sesenggukan, kelopak matanya terlihat kepayahan menahan butiran bening yang mulai menetes mengaburkan pandangannya. Beberapa minggu setelah kepergianmu, aku masih meringis. Hatiku enggan mensterilkan kamu dari setiap sudutnya, dia bersikeras mengenang. Tapi kemana perginya rasa manis kenangan? Saat aku menunggunya ditempat biasa kita tertawa, kenapa malah tangis yang kudapat?


Rissa mengedarkan pandangannya ke sekeliling, nuansa malam minggu jelas terasa dengan begitu banyaknya pasangan yang berlalu lalang dengan senyuman cerah yang terukir diwajah mereka. Rissa menerawang jauh.


Dimalam minggu aku temukan pelipur laraku, dimalam minggu pula aku kehilangannya.
Dimalam minggu aku menikmati sisa-sisa kebersamaan kita, dimalam minggu pula aku menangisinya.
Dimalam minggu…

Rabu, 05 Juni 2013

Mendewa(sa)kan Kepedihan

Baca sebelumnya disini : Mendewakan Kepedihan


Ini hidup. Memangnya apa yang kamu harapkan ? Ini dunia. Ini bukan negeri dongeng yang sempurna segala-galanya. Hidupmu menyakitkan? Aku juga. Hidupmu tak seperti dambaanmu? Aku juga. Sudah kukatakan, ini hidup. Ini bukan tempat mengumbar keluhan. 
Untuk apa kamu dilahirkan? Untuk hidup, untuk memperbaiki tingkah lakumu yang sudah cukup buruk. Bukan memperparahnya.
Kamukah satu-satunya yang tersakiti?
Ah tolong, jangan banyak berharap. Kamukah satu-satunya yang menangis meratapi hidup? Jelas tidak. Kamu ingin dimengerti? Aku juga. Cobalah sesekali berbicara, jangan terus-terusan memendam. Kamu pikir seisi dunia ini cenayang? Yang bisa membaca semua keinginanmu tanpa perlu kamu tuturkan? Kamu tahu komunikasi, kan? Itu hubungan timbal balik. Dialog. 
Bukan deretan monolog bla bla bla yang cuma kamu teriakkan dalam hati.

Seseorang menyebutmu benalu? Segera menjauhlah dari mereka...  Benalu yang sesungguhnya kadang menatap terlalu jauh; sangat-sangat jauh, sampai mereka lupa berkaca pada cermin yang dipegangnya sendiri.


Ini alam liar. Kamu tak akan pernah bisa menyenangkan semua orang. Para pembenci dan pendengki itu akan memakimu, menyakitimu dan memojokkanmu habis-habisan. Mereka akan meludahimu, melemparimu dengan segala macam hal berbau busuk, dan meruntuhkan mentalmu. Lalu kamu ingin menyerah? Cuih! Kalau begitu, kamu belum siap hidup.
Kenapa? Itu pertanyaanmu?

Para pembenci itu akan menertawakanmu. Mereka akan meneriakkan betapa pengecut dan memalukannya kamu! Tapi tenanglah, lidah tak membunuh. Kata-kata mereka tak perlu kamu bungkus dan kamu masukkan dalam hati. Jangan biarkan otakmu terkontaminasi! Ingat, cuma sampah paling busuk yang meneriakkan sampah pada orang lain. Jangan kotori mulutmu untuk seseorang yang bahkan sudah tak pantas lagi kamu pedulikan.


Berhentilah dan dengarkan hinaan itu, resapi dan pelajarilah. Belajar dari musuhmu, Sayang. Mereka sahabat terbaikmu. Mereka hanyalah seseorang yang terlalu gengsi untuk mengakui bahwa mereka mempedulikanmu. Mereka cuma sekumpulan manusia berego tinggi yang tak bisa mengakui bahwa hidupmu ternyata lebih menarik daripada mereka. Abaikan mereka, Sayang. Ini hidup, ini bukan tempat menangisi takdir!

Dan setelah membaca semua kata-kata ini, masih ingin matikah kamu? Pecundang...



Mendewakan Kepedihan

Aku benci dunia. Aku benci hidup. Semua menampar aku dengan kejinya dan membuang aku ke kebusukan terdalam. Tak ada yang peduli, meski hari berganti kelam. Tak ada kata mengerti, meski derai air mata terpaksa kutahan disetiap detiknya. Aku mencoba tegar, memendam rasa sakit itu dalam diam. Tak pernah kutunjukkan rasa sakitku, meski kadang aku sendiri hampir gila dibuatnya! Siapa yang peduli? Untuk apa mereka peduli?

Aku benci hidup. Aku benci mereka! Disaat semua hujatan itu diarahkan padaku, aku berpura-pura tak mendengar… atau bahkan hanya sekadar tak ingin mendengar. Lagi-lagi aku benci hidup, karena semua yang hidup seakan membenciku dan tak mengharapkan aku ada. Lagi-lagi aku ingin bertanya pada yang mengutusku disini, untuk apa aku hidup? Jika bahkan untuk menyenangkan seorang manusiapun aku tak bisa. Jika bahkan seorang temanpun tak aku miliki.

Apa ada yang mengerti aku? Saat dia pikir dia mengerti, itu munafik! Mereka selalu ingin dimengerti, tanpa pernah berusaha merasakan bahwa aku juga ingin dimengerti. Aku juga ingin dipedulikan. Setiap hinaan yang mereka lontarkan jelas melukai aku, dan menghinaku seakan rongsokan. Aku tak suka dilahirkan dan seringkali berharap tak pernah dilahirkan. Aku lebih suka tak ada daripada hidup hanya sekadar jadi benalu. Tak adakah kisah yang lebih baik untukku? Apa hanya untuk ini aku hidup? Kenapa tak seorangpun menganggapku penting?

Iya! Aku memang cuma parasit yang menggangu! Dan jika kalian menyadarinya, kenapa tidak kalian bunuh saja aku? Biarkan aku menerima kesenangan. Aku jelas lebih suka mati! Ayoo, tunggu apalagi? Bunuh aku sebelum semua perkataan dan cacian mereka membuat aku gila. Tolong, bunuh aku!





Baca lanjutannya disini : Mendewa(sa)kan Kepedihan

Minggu, 19 Mei 2013

Terdesak Kejutan



"Aku adalah kamu. Dia adalah kamu. Kita semua adalah sama."

            Iya, petikan kalimat itu seringkali terngiang ditelingaku. Memang, pepatah yang sederhana. Beberapa kata yang sanggup membuat pikiranku melayang mencerna maknanya.
            “Aku bukan kamu! Kita beda! Dasar anak manja!” ucap seseorang dengan ketusnya. Aku cuma bisa menarik napas panjang, berusaha menahan segala keinginanku untuk mengomentari perkataan kasarnya itu. Iya, kata-kata itu memang tidak tertuju padaku. Kulirik sepasang mata yang marah itu. Ah, emosi sesaat. Waktu yang sangat tepat untuk membuat hati seeorang terluka karena lidah yang lepas kendali. Aku beranjak berdiri, merangkul pundak sahabatku yang marah itu dan menenangkannya.
            “Sabar, Via. Emosi nggak bisa membuat masalah kalian selesai.” ujarku sambil menatap dua pasang mata itu secara bergantian. “Kita disini buat ngomongin ini baik-baik kan?” tambahku retorik.
            Kemarahan di mata Via perlahan-lahan mulai menyurut, dia mengalah dan kembali menghempaskan dirinya diatas sofa kamarku dengan wajah mengkerut. “Aku muak ngomong sama dia, Sya. Dia nggak bakal ngerti rasanya jadi aku.” ujarnya masih dengan nada tinggi.
            Aku kembali menarik napas panjang. Kesabaranku sudah cukup terkuras dengan situasi tak mengenakan seperti ini. “Aku tahu, semua orang punya hidupnya sendiri dan asal kamu tahu, Via. Aku juga nggak akan ngerti gimana rasanya jadi kamu.” aku menekankan satu kalimat terakhir itu dengan nada yang cukup membuat mereka berdua menatapku heran. Raut wajah keduanya jelas menggambarkan rasa bingung yang tak bisa mereka tutupi.
            “Maksud kamu?” Arla mulai angkat bicara.
            Aku tersenyum kecut. “Hidup kita kan beda, ya jelas aja aku nggak akan ngerti rasanya jadi kalian. Aku kan bukan kalian.” jawabku cuek.
            "Ya seenggaknya kamu berusaha ngertiin gimana capeknya jadi aku, Sya. Aku bukan orang kaya! Aku harus kerja tiap hari dan kerja itu capek. Barbie super perfect ini mana ngerti? Yang dia tau tuh cuma ngomel ama buang-buang duit. Ya, kamu tau sendiri lah mulut cerewetnya itu. Jijik aku dengerinnya." Via menatap Arla dengan tatapan menantang.
            "Heh, gausah asal ngomong ya! Ini bukan masalah miskin atau kaya. Masalahnya itu mulut kamu yang lancang! Bacotan kamu yang nyakitin hati! Emangnya kamu pikir itu bagus hah?" Arla mulai terpancing emosi.
            "Emangnya bacot aku kenapa? Biasa aja tuh kalo dibandingin hinaan kamu yg luar biasa nyakitin itu. Hmm apa yaa..... Oh iya cewek fakir! Haha gimana Princess Barbie? Udah inget pernah ngatain aku apa?" ujarnya sambil tersenyum jahat.
            "Itu bukan buat kamu! Kamu aja yang kegeeran sendiri."
            "Gausah nyangkal! Aku denger langsung pas kamu hina-hina aku didepan Rasya. Aku yakin kamu ngomongin aku, iya kan Sya?" Via berbalik menatap aku. Aku tak bergeming. "Oke, aku anggep itu artinya iya." Via kembali menatap Arla. "Sekarang apalagi Princess Barbie? Mau menghina-hina upik abu lagi? Silahkan! Mulut comel kamu itu nggak berarti apa-apa. Kasian ya anak manja kayak kamu. Sampe segitunya cuma mau diperhatiin doang." Via tertawa mengejek.
            Arla melengos. “Aku bilang juga apa, Sya! Mulut yang nggak pernah disekolahin itu nggak bakal bisa berhenti! Nyerocos aja ngeluarin kata-kata busuk yang seenaknya dia susun. Emangnya dikira hidup aku sempurna? Aku juga punya masalah, aku muak dibilang perfect sama dia!!!” Arla mengakhiri kalimatnya dengan nada tinggi.
            Ah, aku mulai gerah. Satu setengah jam menyaksikan mereka berdua saling menghina-hina sudah sangat cukup membuat kesabaranku habis. “Terus kalian maunya gimana? Mau terus-terusan  bunuh-bunuhan pake kata-kata?” ujarku setengah membentak. “Kalian sebenernya mau baikan atau engga sih? Aku capek liat kalian begini!” Suaraku naik satu oktaf, mereka berdua tetap tak bergeming.
            “Heh, aku ngomong loh… apa kalian jadi mendadak bisu dan tuli?” retorikku yang sekarang lebih mirip bentakkan. Mereka masih bergeming. Aku mulai benar-benar kehilangan kesabaran saat tiba-tiba suara itu muncul.
            “SURPRISE!!!!!!!!!!” teriak beberapa orang secara berbarengan. Aku menengok dan mendapati mamaku sedang tersenyum sambil memegang seloyang cake besar dengan lilin berangka tujuh belas yang menyala terang diatasnya. Kudapati Via dan Arla tertawa lebar.  
            “Ih kaliannn!!!!!” teriakku gemas. Mereka tertawa semakin keras.
            “Happy sweet seventeenth ya, Sya. Maaf loh, kata Divon biar ada kesan-kesannya.” ujar Arla sambil tertawa lagi.
            Aku tercengang. “Divon?”
            “Iya, tuh dia dibelakang kamu.” jawab Arla dengan senyum menggoda.
            Aku menengok kebelakang dan mendapati cowok itu tersenyum manis sambil memegang sebuket mawar merah. Tanpa kusadari, tubuhku gemetar saat melihat perlahan-lahan dia berlutut......



NB: Ini kutulis 27 Februari 2013 dikantin sekolah, disaat aku menunggu kedatangan seseorang yang pernah membuatku tersenyum :)

Sabtu, 18 Mei 2013

Berpaling dalam Kenangan

Ini, entah malam minggu keberapa yang sudah kuhabiskan tanpa kehadiranmu. Tak ada lagi ajakan untuk sekadar mengisi hari ini dengan senyum. Berdua. Ditempat biasa kita memandang bintang dan lautan malam. Tak ada lagi lelucon dan rekaman-rekaman manis yang kamu bagi bersamaku. Tak ada lagi percakapan- percakapan panjang yang biasanya selalu diiringi tawa. Tawa kebahagiaan kita.
Aku mulai mengenali apa yang aku cintai, Tuan. Yang mulai lebih aku sayangi dibandingkan kamu. Iya, menulis. Apakah kamu tahu mengapa aku memanggilmu sinar alfa? Kamu jelas tahu lambang alfa kan, Tuan? Kamu, anak IPA yang mencintai Kimia. Kamu jelas tahu muatan sinar alfa kan, Tuan? Iya, silakan jawab dan aku akan tersenyum. Kamu, sinar alfaku. Sinar radioaktif bermuatan positif yang mempunyai daya ionisasi terkuat. Mengagumkan bukan?
Kamu belum tahu. Kamu tak sempat kuberitahu bahwa aku– selama dua kali berturut-turut, mendapatkan nilai sempurna dalam ujian kimia di semester ini. Bukan. Aku tak bermaksud menyombongkan diri. Kamu tahu kenapa? Karena buku paket kimia yang kupegang, buku paket kimia yang kumiliki sekarang, pernah singgah ditanganmu sebelumnya. Iya, itu buku yang menemanimu selama setahun lalu. Kamu tahu betapa terkejutnya aku? Sangat. Mungkin itu sebabnya aku cukup familiar dengan namamu, dengan nama yang masih saja tak berani kusebutkan.
Kamu bermuatan positif. Tahu pasangannya positif, kan? Iya, negatif. Aku memilih nama yang punya kadar kelemahan. Maaf, aku tak tahu bahwa daya ionisasi terkuat akan membuatmu berkemampuan menarik muatan negatif, Tuan. Aku sangat tak mengira bahwa sinar alfaku akan berhimpitan dengan kutub negatif, dengan berbagai hal yang salah.
Sudah, lupakan. Aku sudah mulai berpaling, Tuan. Aku jelas lebih mencintai menulis. Aku pastinya lebih menyayangi setiap huruf dan kata yang pernah aku goreskan dibanding kamu. Kenapa? Aku mulai jahat yah? Maaf, tapi bukannya kita semua tahu siapa yang dikhianati?
Santai, Tuan. Aku tidak marah. Aku bukan pendendam kolot yang menyimpan kebencian dalam setiap rongga hatinya. Aku cukup pemaaf. Hidupku terlalu singkat untuk sekadar membenci seseorang yang bahkan sudah tak pantas lagi aku pedulikan. Iya, aku cukup bijaksana untuk memilih diam. Untuk lebih memilih menanggapi setiap pertanyaan-pertanyaan konyolmu dengan lelucon. Untuk lebih memilih tertawa dibandingkan menangis.
Aku cukup waras untuk tidak menyesali kepergianmu, Tuan. Aku merasa seperti ada yang aneh. Kamu sepertinya terlalu mahir dalam penghianatan. Kamu terlalu mahir menerbangkan aku tinggi-tinggi ke atas langit, lalu merobek sayapku saat aku bahkan baru meresapi betapa bahagianya melayang diudara. Apa menurutmu ini lucu? Tertawakan saja airmataku, Tuan.
Aku sudah mulai bosan menulis tentangmu. Aku mulai kehabisan bahan obrolan. Aku mulai letih membiarkan kamu berlalu lalang dalam rongga otakku. Membiarkanmu mengembalikan kenangan yang sudah dengan sangat rapi kususun dalam bentuk alinea.
Yah, aku kembali mengingatnya. Lagi-lagi kisah yang sudah terlewatkan ini akhirnya kuceritakan lagi, dan lagi-lagi sosokmu yang sudah menghilang dari peradaban hidupku itu harus kubayangkan lagi. Bagaimana, Tuan? Berkesankah tulisan-tulisan yang pernah aku tulis dalam tangis? Aku harap kamu menyukainya, aku harap kamu meresapi kata demi kata yang kutulis dan menemukan betapa tersakitinya aku.
Aku tak suka berlarut-larut, Tuan. Kebersamaanmu dengannya sudah sangat cukup membuatku tahu diri. Aku menyingkir. Sekarang apalagi? Belum puas menyerpihkan hatiku? :')

Rabu, 15 Mei 2013

Masih Tentang Kamu


Belakangan ini, kumpulan paragrafku semakin membosankan. Isinya cuma kamu. Kamu. 
Kamu lagi, kamu lagi. Iya, kamu
 sang penghianat dengan tipu daya tingkat dewa. Sang pecinta Cules yang bahkan tak berani menatap mata korbannya. Menatapku.
Aku salah. Aku sangat lupa kalau ternyata setiap manusia mempunyai topengnya masing-masing. Aku tak tahu kalau ternyata dibalik sisi terangmu, kamu sama sekali bukan pria manis yang selama ini aku bangga-banggakan. Kamu sama sekali bukan sosok sederhana yang selama ini aku cari-cari.
Kamu tahu apa yang paling aku benci sekarang? Aku benci pertanyaan-pertanyaan konyol mereka tentangmu. Tak bisakah itu ditujukan kepada dia yang ada di sisimu sekarang? Tolong jangan tanyakan kabarnya padaku. Tolong jangan tanyakan aktivitasnya lewat aku. Tolong jangan tanya kemana dia akhir-akhir ini karena kalau boleh jujur sejujur-jujurnya, aku tidak pernah tahu! Aku muak.

Aku semakin ingin menamparmu sekarang. Kenapa? Karena seperti yang pernah kuberitahukan, aku dikhianati. Karena seperti yang pernah aku dengung-dengungkan, kamu penghianatnya. Iya, kamu... aku selalu benci ekspresi pura-pura bodohmu. Ekspresi wajah lugu nan polos dibalik sesosok pembohong kelas dunia bertaraf master. Penipu terlatih.
Sahabatku benar, aku curiga bahwa kamu 'sakit'. Aku curiga bahwa kamu punya kecenderungan menyakiti dan tanpa rasa bersalah. Kamu terlalu mudah merancang permainan, mengambil rencana dan memporak-porandakan hati wanita itu satu persatu-- termasuk aku. Aku sangat menyesalkan jika sosok semanis kamu ternyata benar-benar 'tak waras'. Aku sangat bersimpati jika sosok semenakjubkan dan sealim kamu ternyata benar-benar 'sakit'. Sakit jiwa, sakit mental, sakit otak.

Aku diam. Aku tak akan banyak berkomentar soal 'cinta' versimu. Cinta yang ternyata cuma lima huruf penentu kalah dan menang. Cinta yang ternyata hanyalah tentang siapa yang menangis dan tersakiti di akhir cerita. Aku tahu aku kalah, aku mengalah kepada 'cinta' versimu yang entah mengapa terasa begitu mengerikan. Aku selalu bergidik ngeri jika mengingat-ingat bahwa ternyata sosok yang pernah menyandarkan aku ke bahunya, sosok yang pernah menggenggam jemariku erat-erat, sosok yang pernah menjadi keseharianku selama ini adalah sosok yang sama dengan penghianat yang sedang kuperangi sekarang.
Aku tercekat. Wanita mana yang tak tersakiti jika pria dambaannya selama ini ternyata hanyalah seorang bajingan busuk pengobral cinta? Wanita mana yang takkan terluka jika pendampingnya selama ini ternyata juga membagi cintanya pada entah berapa banyak wanita? Aku tertusuk tepat di hatiku, berdarah dan nyaris sesak napas. Aku terpatung memandangi senyuman jahatmu. Kamu yang kemudian malah asyik tertawa, mengumpat dan mencaci maki kemahatololanku. Aku sesenggukan menangis, sementara kamu sibuk melucu, membuat lelucon dan menjadikanku bahan tertawaan. Selucu itukah rasa sakitku?
Aku salut luar biasa! Aku sama sekali tak menduga bahwa sosok yang pernah kusayangi, sosok yang pernah kupedulikan, ternyata akan berubah menjadi menakutkan dan semenyeramkan ini. Aku tersakiti luar biasa! Aku benar-benar dilukai dalam-dalam oleh kata-kata manis yang sekarang dihempaskannya dengan tanpa perasaan. Aku bisa apa? Kamu boleh tertawa sepuasmu, Sayang! Silakan hina aku jika itu membuat 'penyakitmu' sembuh, aku tidak akan menyangkal sedikitpun soal kisah ini.
Pergilah, Sayang! Pergilah dan jangan pernah kembali. Tolong jangan berbesar hati saat melihat tulisanku yang banyak bercerita tentangmu. Aku hanya berusaha bersikap baik. Aku hanya berusaha menghargaimu sebagai kenangan, sebagai masa lalu yang takkan pernah terlupakan. Pergilah. Tolong jangan harap aku akan menerimamu di masa depan karena sekali saja merasakan bagaimana dicintai penghianat itu... percayalah kamu tidak akan mau mencicipinya lagi :')

Senin, 06 Mei 2013

Mengenang kamu, lagi

Ini tentang senyum, aku belajar begitu banyak dari kamu. Tentang betapa harusnya aku memendam bermilyar-milyar rasa sesak di dadaku, tentang betapa wajibnya aku memperlakukan orang lain dengan hati nurani yang lembut. Kamu mengajari aku banyak hal. Tentang musik, tentang lagu, tentang hidup dan tentang tawa bahagia. Kamu memberikan aku banyak hal. Segudang senyum, segenggam kehangatan, kelembutan dan sekumpulan rindu yang tak manusiawi.

Aku sama sekali tak akan berani menyebutkan namamu, tapi semua yang pernah mengenalku, semua yang pernah mengenal kita, mereka pasti tahu siapa sinar alfaku. Aku sempat berpikir bahwa kamu berbeda. Kamu unik. Kamu, sosok misterius yang tiba-tiba saja muncul dan menyisipkan senyum dalam hari-hariku. Kamu, sosok humoris yang dengan sekejap hadir dan tanpa kusadari telah mengisi keseharianku. Aku menjadi terbiasa bersamamu, terbiasa tersenyum saat membaca setiap detail kisahmu yang tak pernah luput kamu ceritakan setiap harinya. Aku menjadi terbiasa mencicipi kebahagiaan, mendengar kamu bercerita tentang ini-itu lantas membuatku tersenyum. Aku bangga menjadi orang yang kamu percayai.

Apakah kamu masih ingat pertemuan pertama kita? Saat itu pagi yang cukup dingin, kamu memakai jaket jeans-mu sementara aku sibuk merapatkan jaket biru muda kesayanganku. Kecanggungan jelas terjadi dalam perjalanan singkat kita. Saat itu aku cuma bisa membisu, aku yang masih sangat gugup untuk sekadar memulai obrolan. Hehe manis yah? Akhirnya semua yang kutakutkan sejak awal mulai menjadi nyata, kita mulai berjarak dan sudah tak lagi saling mengenali. Lalu aku bisa apa? Aku cuma masa lalu, kan? Bukan orang yang kamu harapkan ada di setiap detik hidupmu kelak. Aku bukan apa-apa, kan? Aku cuma sebuah cerita yang kamu simpan dalam diam, aku cuma sepotong kecil kenangan yang terlupakan.
Yaaa... mungkin aku setengah waras sekarang. Iya, jangankan kalian, aku bahkan kebingungan mengapa aku masih bisa tertawa saat mengenangmu. Aku masih seringkali tersipu malu saat mengingat berbagai kata-kata manis yang pernah meluncur dari bibirmu. Aku aneh, yah? Saat aku sudah disakiti sedemikian rupa dan aku masih bisa tertawa? Aku bodoh, yah? Saat aku sudah dikhianati sedemikian parah dan aku masih bisa mempedulikan dia? Iya, aku bodoh. Puas?
Mereka memang masih sering membicarakan kamu, Tuan. Mereka memang masih menunggu kelanjutan kisah kita, tapi apanya yang berlanjut saat penghianatan sudah terang-terangan kamu perlihatkan? Apanya yang dinantikan saat kita bahkan sudah benar-benar saling mengabaikan? Mereka suka asyik sendiri bercerita tentangmu. Sementara aku sibuk menutup telinga, memasang senyum dan berpura-pura bahwa segalanya masih baik-baik saja. Sekuat itukah aku?
Mereka masih gemar bercerita tentangmu, Tuan. Mereka bilang aku masih menunggu kepastian. Ah ayolah, kepastian macam apa yang kuharapkan dari seseorang yang sudah jelas- jelas menggandeng wanita lain saat tak bersamaku? Masa depan macam apa yang kubayangkan bersama seseorang yang sudah jelas-jelas terbukti mengkhianati kepercayaanku?
Aku tahu, aku bertemu kamu untuk sebuah alasan, untuk sebuah pengalaman hidup yang tak akan aku temukan dalam biografi manapun, untuk sebuah perasaan manis yang tak akan aku mengerti hanya dengan sekadar membayangkannya. Aku tahu, aku bertemu kamu untuk sebuah pelajaran. Untuk sebongkah rasa ikhlas yang seringkali kamu nasehatkan padaku. Untuk sekeping kesabaran yang tak pernah henti-hentinya kamu ingatkan setiap detiknya.
Aku tak pernah menyesal mengenal sosokmu, Tuan. Aku tahu kamu tidak bermaksud jahat. Kamu yang membuat aku bahagia, kamu juga yang membuat aku sedih. Hidup itu berputar, kan? Sudahlah, aku tak pernah mengharapkan kamu kembali. Aku cuma suka mengenang, Tuan. Mengenang bukan berarti ingin segalanya terulang, kan?
Sampai jumpa di masa depan, Tuan. Andai kita ditakdirkan bertemu lagi nanti... mungkin aku akan menamparmu beberapa kali, dengan keras ;)