Senin, 27 Januari 2014

Kamu Melulu, Masa Lalu

Seharusnya aku tak perlu mengunjungi kantin pada istirahat kedua tadi. Yah, setelah berulang kali mengumpat memaki-maki diri sendiri, aku menyerah. Ternyata memang tak ada bedanya. Kita (terpaksa) kembali dipertemukan, dalam suasana terabsurd yang tak pernah aku perkirakan.


Jika kejadian itu kembali kureka dalam kepala, semuanya sederhana. Aku menuruni tangga sekolahku tanpa prasangka apa-apa, tanpa pernah tahu bahwa aku akan menemukan sosokmu disana, bertopi hitam, baju khas taruna penerbangan yang kau idamkan dan... ah, tunggu! Aku mengenalimu! Sekilas. Meskipun hanya dengan memandangi punggungmu, aku tahu, itu memang kamu. Pria yang sudah lama ini tak mampu terjangkau pandangan mataku.



Ternyata, tak ada pertemuan nyata bukan berarti aku cepat lupa. Sel-sel otakku masih benar-benar mengenali siluet tubuhmu, meski tanpa rambut cepak dan sudah terpapas rapi, meski tanpa seragam putih abu-abu yang jadi identitas diri, aku masih mengenalimu; dalam hitungan detik. Kurang dari sepuluh langkah ke depan, aku berhasil melewati posisimu dengan gerak-gerik 'senormal' mungkin. Iya, segalanya berhasil... sampai kemudian kabar-kabar itu mulai sampai ke telingaku...



"Eh, alumni tahun lalu kan lagi sosialisasi kampus mereka, tuh, ke tiap-tiap kelas. Ada Sinar Alfa juga, loh! Nggak kangen?" Seseorang menegurku dengan nada menggoda.



Aku mengulum senyum masam. "Udah tau," jawabku yang membuat orang itu kembali memberondongku dengan seribu satu macam pertanyaan. Seolah-olah aku dan Sinar Alfa masih terikat hubungan.



"Di luar ada siapa, tuh?"



"Ehem, cieee... cieee ada yang inget masa lalu, nih!"



"Duh, nggak jadi moveon, deh, kalo orangnya nongol lagi. Hahaha..."



Seruan-seruan meledek terdengar dari seisi kelas saat sosok itu melewati kelasku dengan gelagatnya yang khas. Aku mencoba tersenyum, berusaha memungkiri keadaan hatiku yang mendadak pilu. Ahhh, sepedih inikah masa lalu?



***


Bel pulang sekolah sukses mengakhiri pergulatan batinku yang sedaritadi sibuk menepis-nepis kenangan. Aku buru-buru membereskan buku, menggendong tas dan tergesa-gesa meninggalkan kelas. Berusaha menjauh dari sosoknya yang kukira ada di kelas sebelah. Ya... aku kira. Tapi bukannya perkiraan seringkali meleset, ya?



Ditengah hiruk pikuk kendaraan itu aku berulangkali menarik napas lelah. Bus yang kunanti sejak berpuluh-puluh menit lalu masih tak kunjung menampakkan wujudnya. 
Awan berubah menghitam, rintik-rintik hujan mulai menetes membasahiku saat tanpa disengaja, sudut mataku menangkap sosok yang tak asing disana. Diseberang jalan, berlarian menuju halte bus dengan tangan menudungi kepala. Aku terperanjat. Ah, sial! Itu benar-benar kamu!



Aku tak bisa berpura-pura tak peduli. Jantungku bahkan mengerti bahwa kebetulan ini tak bisa ditolerir lagi. Semua terlalu nyata, dan aku benci harus mengakui bahwa aku masih saja memandanginya! Miris memang. Betapa aku hanya bisa bernostalgia dari seberang jalan, berpura-pura tidak menatap sosokmu di kejauhan sambil asyik sendiri mengutak-atik kenangan.



Oke. Aku hampir lupa bahwa saat ini hujan!!! Kurapatkan jaketku, kuambil apapun yang bisa menutupi kepala tanpa berniat sedikitpun untuk beranjak dari tempat ini. Meskipun jarak halte tak sampai lima meter dari tempatku berdiri, aku lebih suka diguyur hujan. Yah... sekaligus hujan kenangan.



Kita berdiri hampir berhadapan, terpisah beberapa meter oleh dua ruas jalan dan sebuah selokan raksasa ditengahnya. Aku masih menerka-nerka kendaraan apa yang akan kamu tumpangi saat kemudian kamu tiba-tiba menghilang, bersamaan dengan melajunya sebuah angkot berwarna biru yang kucurigai berisi kamu didalamnya.



Lalu... selesai. 'Kebetulan' singkat yang sangat menarik. Aku bahkan tak sabar menunggu sampai dirumah untuk bercerita tentang ini, karena pada detik selanjutnya kudapati diriku tengah merogoh-rogoh notes dari dalam tas, mengambil alat tulis, dan membiarkan semua kisah ini mengalir... kisah yang (seharusnya) sudah lama berakhir.



Aku sampai dirumah dengan notes penuh tulisan. Mual yang kudapat seusai perjalanan tadi tidak menyurutkan niatku untuk segera mempostingnya di blog. Tapi ketika aku mengeluarkan tab-ku dari dalam tas, aku melongo. 1 unread message.


From : Sinar Alfa.



Neduh gih di halte, jangan ujan2an ;)
Duluan ya



Deg! Mataku membulat, aku sontak menganga. 
Sinar Alfa? Kamu? YaTuhan! Mungkinkah kisah ini belum benar-benar berakhir?


Ah, kamu melulu, masa lalu...








NB : Tulisan ini diikutsertakan dalam #QuizDy yang diadakan oleh @DyLunaly :)

Rabu, 01 Januari 2014

Selamat Datang, DuaRibuEmpatBelas :)

Hari ini, semua orang terjaga. Ruas-ruas jalan protokol ibukota dipadati kerumunan orang yang punya satu tujuan; menanti tengah malam. Hari ini, langit hitam itu berubah semarak. Suara letusan kembang api dan tiupan terompet menggema diseisi dunia– diwaktu yang berbeda-beda. Menampilkan harmoni dan keindahan tersendiri di bumi kita.

Wajah-wajah sumringah, senyuman cerah dan tawa renyah terdengar begitu akrab ditelinga. Seperti biasa, konvoi besar-besaran, konser gemerlap dan ratusan acara hiburan digelar semewah-mewahnya. Hitung mundur pergantian tahun layaknya detik-detik mendebarkan yang membuat hati berdecak kagum. Kilauan kembang api warna-warni disambut teriakan terpesona penduduk dunia... bahagia...

Dan akhirnya tahun berganti :) Tahun baru. Hari baru. Harapan baru. Tapi kadang juga tak ada yang baru. Semua masih sama, kerumunan orang yang menghasilkan tumpukan sampah, keindahan kembang api yang berbuah polusi dan burung-burung mati. Ya, memang tak ada gunanya resolusi. Semuanya basi.

Ketika tahun baru dirayakan seluar biasa mungkin, saat pergantian tahun terasa begitu memesona... ternyata semua memang tak ada yang berbeda. Semua masih sama. Kesalahan yang sama, kebobrokan dan pola pikir yang lama.

Aku bukannya tak suka perayaan. Aku bahkan mengagumi kembang api, hingar-bingar gemerlapnya kota Jakarta, hingga lautan manusia yang saling bercengkrama. Tapi tidakkah kita pikirkan keadaan Tuan Langit? Bagaimana dengan perasaan Tuan Awan yang setiap tahunnya 'ditembaki' ledakan? Atau terusiknya bintang-bintang oleh gemuruh yang memekakkan?

Tahun baru, tak akan berarti apa-apa. Hanya membuat bumi marah jika diperingati dengan cara yang salah. Hanya akan mengecewakan pohon jika sekadar buang-buang kalender. Terlebih perasaan Tuan Awan; yang dunianya habis dibombardir 'kembang api' semalam.

Kita; manusia, tidak pernah mau tahu. Betapa letusan yang 'indah' itu menyakiti alam, merusak bumi, bahkan mencemari kehidupan kita sendiri. Wajar saja jika alam berontak, bumi merong-rong terbatuk-batuk penuh amarah.

Bumi kita lagi sekarat! Sementara kita malah sibuk merayakannya....


Jadi, perlukah Malaikat Izrail ikut meniup terompet?
Agar
kemeriahan pesta Tahun Baru kita semakin bergemuruh?